Bening tiba di rumah tepat saat kamar untuk Winda sudah selesai disiapkan. Dua orang tukang yang membantu membereskan ruangan langsung berdiri begitu melihat kedatangan Bening.“Sudah selesai, Ning,” ujar salah satu tukang.“Oh, ya? Terima kasih ya, Pak,” ucap Bening lelah. “Seperti biasanya, kan?” Dia mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dari dompetnya.“Eh, Ning… dokter muda itu katanya tunangan Pak Lurah, ya?” bisik tukang yang menerima uang, matanya melirik penuh rasa ingin tahu.“Saya gak tahu, Pak,” ucap Bening lirih, dia tidak ingin bergosip.“Alaaa… masa gak tahu. Kamu pura-pura gak tahu mungkin. Mereka itu serasi banget, ganteng dan cantik. Yang satu Lurah, yang satu dokter. Klop!” sahut tukang satunya lagi sembari cekikikan.Bening menarik napas dalam-dalam, mengencangkan rahangnya. “Pekerjaan Bapak-Bapak sudah selesai. Silakan pulang.”“Jangan judes-judes jadi perempuan, Ning! Entar gak laku!” canda si tukang.“Bapak-bapak, tolong segera pergi, ya!” ulang Bening tak
Read more