“Katakan, Ning!” desak Banyu, suaranya serak.“Mas Banyu janji dulu. Setelah ini, Mas Banyu harus lebih tenang dan kita bisa menerima takdir kita masing-masing dengan baik,” pinta Bening lirih.Banyu menatap Bening dengan sorot curiga yang amat dalam. Dia tidak menyukai arah pembicaraan ini.Melihat kekalutan itu, Bening kembali mengulurkan tangan, membelai rahang Banyu dengan lembut. “Mas... Saya menyukai Mas Banyu. Kalau tidak, mana mungkin malam itu saya menurut saja...”Seketika, baik mata Bening maupun Banyu sama-sama berkaca-kaca. Air mata yang sejak tadi ditahan kini mengambang di pelupuk mata mereka.“Jadi, ini kejujuran kamu?” Tanya Banyu mengusap bibir Bening dengan jarinya. Dan Bening mengangguk.“Lalu, kenapa kamu gak berusaha mempertahankanku, Ning?” tanya Banyu, suaranya bergetar menahan perih.“Mas... Bening ini hanya janda kampung, gak cocok bersanding dengan Mas Banyu. Nanti jadinya, kalau gak menyusahkan Mas Banyu, yang iya malah saya mempermalukan diri sendiri,” jel
Read more