"Perempuan?" Pertanyaan itu keluar pelan dari bibir Tian. Tangannya masih bergerak membersihkan luka di pelipis Raiden, tetapi kini gerakannya jauh lebih lambat. Ia benar-benar sedang berpikir, bagaimana bisa kakanya sampai seniat itu membantu seseorang, pikirannya mulai dipenuhi rasa penasaran. Selama tinggal bersama, ia jarang melihat kakaknya pulang dalam keadaan seperti ini. Lebih jarang lagi mendengar Raiden mengaku terluka karena berusaha menolong seseorang. Kalau hanya untuk membantu hal-hal kecil, Tian sudah paham, tetapi ini seperti sedang mempertaruhkan dirinya sendiri. Raiden menganggukkan kepala pelan. Pandangannya kosong beberapa saat, seolah kembali berdiri di gang sempit itu. Jemarinya saling bertaut di atas lutut, lalu mengendur lagi. Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya mulai bercerita. "Jadi begini, waktu aku pulang dari bekerja.." Raiden sengaja menggantungkan kalimatnya, pemuda itu
Read more