"Apa, ada seseorang di dalam?" Pertanyaan itu menggantung di udara. Jasmine seolah kehilangan kemampuan untuk bernapas. Jantungnya menghantam dadanya tanpa ampun, sementara telapak tangannya mulai dipenuhi keringat dingin. Untuk sesaat ia hanya mampu menatap wajah Zen yang berdiri tepat di hadapannya, berusaha membaca apakah suaminya sekadar bertanya atau benar-benar menyimpan kecurigaan. Di balik pintu kaca balkon, Raiden ikut membeku. Tubuhnya menempel rapat pada dinding pembatas. Ia bahkan menahan napas, takut suara sekecil apa pun akan terdengar dari dalam kamar. Belum pernah seumur hidup ia merasa sedekat ini dengan kehancuran. Jasmine memaksakan senyum. "Aku kan hanya sendiri." Tatapannya berusaha setenang mungkin, tetapi jemarinya tanpa sadar saling meremas di balik tubuhnya. Ia tahu, sedikit saja raut wajahnya berubah, Zen bisa saja menangkap kegugupan yang sed
Read more