Sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh meninggalkan ruang tamu, suara Ibu Hagia kembali terdengar. Kali ini jauh lebih lembut daripada yang pernah Raiden dengar selama bertahun-tahun mengenalnya."Tian."Anak remaja itu yang sejak tadi berdiri kikuk sambil memeluk salah satu kotak hadiah langsung menoleh."Iya, Tante?"Ibu Hagia tersenyum tipis. Senyum yang dulu tidak pernah diberikan kepada kakaknya, apalagi kepada dirinya."Apa kau sudah sarapan?"Tian menggeleng pelan."Belum.""Ya sudah, jangan berdiri terus. Ke dapur saja. Tante baru selesai masak."Tian berkedip beberapa kali. Ia bahkan sempat melirik Raiden, memastikan dirinya tidak salah dengar."Benar... boleh?""Memangnya kenapa tidak boleh?" balas Ibu Hagia sambil terkekeh pelan. "Kau masih masa pertumbuhan. Jangan sampai sakit gara-gara telat makan.""Terima kasih, Tante." Wajah Tian seketika berbinar. Selama hidupnya, tidak banyak orang yang memperlakukannya sehangat itu selain Raiden. Bahkan beberapa tahun lalu, saat
Magbasa pa