"Apa kalian tidak bosan melihat wajah saya setiap hari?" Suara Shen memecah kesunyian gudang yang sejak pagi hanya diisi suara kipas angin tua yang berputar pelan dan sesekali berdecit. Matahari sudah bergeser ke arah barat. Berkas cahaya keemasan masuk melalui celah-celah papan kayu yang mulai lapuk, membentuk garis panjang di lantai semen yang dingin. Udara di dalam gudang terasa pengap, tetapi jauh lebih baik dibanding malam hari yang lembap dan menusuk tulang. Setelah percakapan Damar dan Riko pagi tadi, keduanya kembali menjalankan tugas seperti biasa, seolah tidak pernah membahas apa pun. Riko yang baru saja masuk membawa nampan makan siang menghentikan langkahnya. Di atas nampan itu terdapat sepiring nasi hangat, semangkuk sayur bening, sepotong ayam goreng, dan segelas air putih. Ia mengangkat kepalanya, lalu menatap Shen beberapa saat. "Sudah bangun?" Shen tersenyum tipis. "Sejak tadi." "Kalau terus diam, saya bisa gila." Jawaban itu terdengar ringan, tetapi ent
続きを読む