"Apa mungkin, kalau aku masih mempertahankan kerja dengan Jasmine, semua akan mudah?" ucapnya tiba-tiba, menatap dirinya di pantulan cermin. Entah mengapa, pikiran aneh itu terbesit lagi. Karena tak bisa di pungkiri semua orang menginginkan hidup enak, dan Raiden mulai merasa lelah dengan semua ini. Rasa letih bekerja, dan mimpi yang belum mampu ia raih. Membuatnya ingin menyerah sebelum perang. Langkahnya terasa berat, kala keluar dari rumah. Pria itu sudah berpakaian rapi, sebab ada janji dengan Hagia. Tak lupa, motor tuanya yang selalu setia menemani. *** "Raiden..." Hagia memanggil pelan ketika keduanya berjalan berdampingan meninggalkan taman kota pada sore itu. Matahari mulai turun, menyisakan cahaya keemasan yang memantul di permukaan danau buatan. Di sekitar mereka, beberapa pasangan tampak duduk di bangku taman sambil berbincang, sebagian lagi berjalan bergandengan tangan tanpa terburu-buru menikmati akhir pekan. Raiden menoleh. "Hm?" "Kau dengar aku?" Ra
続きを読む