"Maaf, Pak. Posisi yang Bapak lamar sudah terisi." Kalimat itu menjadi penutup wawancara yang bahkan belum berlangsung lima menit. Raiden hanya menganggukkan kepala pelan, membalas senyum sopan perempuan bagian rekrutmen, lalu berdiri dari kursinya. Baginya, mencari pekerjaan lalu di tolak sudah menjadi makanannya dulu. Ia kemudian mengambil kembali map berisi dokumen-dokumennya dan melangkah keluar dari ruangan dengan langkah yang tetap tegap, seolah penolakan itu bukan sesuatu yang berarti. Baru ketika pintu gedung tertutup di belakangnya dan hiruk-pikuk jalan raya kembali memenuhi pendengarannya, ia menghentikan langkah sejenak. Sorot matanya menerawang ke depan. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di antara lalu-lalang orang yang sibuk dengan urusan masing-masing, sementara dirinya merasa seperti sedang berjalan tanpa benar-benar tahu ke mana harus melangkah berikutnya. Dan Ya, seolah de javu. Ia kembali sibuk menc
続きを読む