“Hey, hey, heeey! Udah, berhenti! Astaga!” Danu lari dan segera melerai mereka berdua. Untungnya, saat itu tidak ada yang lewat dan melihat keduanya dengan posisi yang seperti itu.“Sudah, Tina!” tegas Danu.“Neng ndak papa?” tanya Danu yang langsung mengecek rambut Silvy karena terlihat tercabut di telapak tangan Tina.“Nggak papa, Pakde. Tapi perih.”“Yaudah, Neng ke kamar aja buat istirahat. Bude, biar pakde yang urus, ya? Sebentar lagi kamu mau berangkat kerja.” Danu memberi nasehat dengan nada yang begitu lembut padanya.Danu paham sekali bagaimana Silvy, ia tak ingin dianggap memihak salah satu dari mereka.“Tenang, ya? Pakde bisa jaga diri, kok.” Danu mengusap bahu gadis itu agar tenang.“Yaudah kalau gitu. Vy ke kamar, ya? Nanti kalau ada sesuatu, Pakde panggil aja.”“Iya,” angguk Danu padanya.Tina tersenyum, merasa tenang karena pada akhirnya gadis itu yang pergi dari mereka.Dengan ini, kesempatan ia masuk ke dalam rumah dan berusaha untuk membangkitkan kenangan indah mere
Read more