Cahaya fajar yang pucat menembus celah dinding kabin. Kulitku sudah tidak bisa membedakan antara suhu beku di luar atau hawa panas di dalam ruangan. Seluruh persendianku kebas setelah enam hari berturut-turut menerima gempuran fisik mereka.Aku berbaring terlentang di tengah ranjang kulit beruang. Lenganku tidak memiliki sisa tenaga untuk bergeser satu sentimeter pun. Napasku berembus pendek, sementara mataku menatap langit-langit kabin kayu yang mulai buram."Siklus gairah biologisnya akan mereda malam ini," sebuah suara datar terdengar dari ujung ranjang.Aku melirik perlahan. Xavier berdiri mengikat rambut peraknya yang acak-acakan. Alpha Tertinggi itu menatap lurus ke arah selangkanganku yang membengkak merah dengan tatapan penuh otoritas."Kita harus memberikan segel penguncian terakhir sebelum dinding rahimnya menutup sepenuhnya," lanjut Xavier merayap naik ke atas kasur."Apakah kita harus melakukannya secara beruntun tanpa jeda, Ayah?" tanya Bastian dari arah perapian batu.Ba
Read more