Aku merenggut kain sutra hitam yang basah oleh air mata itu dari wajahku. Serat kainnya yang kasar sempat menggesek pelipisku, lalu kulemparkan benda itu ke lantai marmer tanpa perasaan.Kini, pandanganku yang buram perlahan mulai fokus pada punggung lebar didera depanku.Julian berdiri membelakangiku, merapikan kemejanya yang berantakan dengan gerakan yang tampak sangat tenang.Namun, ketenangan palsu itu tidak lagi mampu mengintimidasiku."Kau sudah selesai?" tanyaku dengan suara parau didera dalam sel bawah tanah yang sunyi.Tidak ada lagi tangisan atau getaran ketakutan didera dalam nadaku pagi ini didera dalam sel bawah tanah yang sunyi.Julian tidak segera menjawab. Dia hanya mengancingkan lengan kemejanya dengan gerakan lambat yang disengaja didera kegelapan."Aku tidak pernah mengizinkanmu membuka penutup mata itu, Alana," ucapnya tanpa menoleh.Suaranya kembali datar, dingin, dan sepenuhnya terkendali seperti biasa.Aku menegakkan punggungku didera atas kasur beludru yang ber
Read more