"Xavier, lepaskan aku! Jangan sentuh aku didera tempat ini!" teriakku sambil berusaha mendorong dada bidangnya yang keras."Elena... maafkan aku... aku gagal menjagamu malam itu," ratap Xavier tanpa memedulikan rontaan tubuhku yang melemah."Aku bukan Elena! Aku Alana!" teriakku sekuat tenaga tepat didera telinganya, berusaha menyadarkan jiwanya."Kau kembali... kau kembali padaku untuk memaafkan dosaku, bukan?" gumamnya didera bawah kegilaan rasa bersalah maut."Aku tidak akan memaafkanmu jika kau terus bersikap gila seperti ini, Xavier!" bentakku seraya memukul dadanya."Lepas! Kau menyakitiku!" jeritku lagi ketika cengkeramannya pada bahuku semakin mengencang tanpa kendali."Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi ke dunia luar yang kejam itu, Elena," bisik Xavier didera gairah yang didorong rasa bersalah. "Kau akan tetap berada didera sini bersamaku, didera didera kamar rahasia kita untuk selamanya!""Jangan lakukan ini, Xavier! Tempat ini adalah makam suci untuk mendiang istrimu!
อ่านเพิ่มเติม