Aroma stroberi mewah dari rambut Nyonya Selin tercium begitu menusuk hidung, seolah menegaskan jurang kasta di antara mereka berdua. Selin memiliki segalanya—kulit semulus porselen, tubuh indah memikat, limpahan harta, dan kini rengkuhan lelaki yang paling Maya cintai. Sementara Maya menatap tangannya sendiri yang kasar, menyadari dirinya hanya perempuan desa malang yang dipanggil saat sang pangeran membutuhkan suplemen stamina. "Kenapa kamu malah menangis lagi, Maya?" tegur Bayu lembut seraya mengulurkan tangannya mengusap pipi Maya. Maya tersentak pelan menerima sentuhan itu, lalu buru-buru menggelengkan kepala dengan tawa kecil yang terdengar rapuh. "Ini air mata bahagia, Bayu... aku sungguh lega melihat kalian berdua selamat dan bahagia," dusta Maya dengan bibir tersenyum manis. Di balik senyuman manis itu, Maya menggigit dinding bagian dalam pipinya kuat-kuat sampai rasa anyir darah memenuhi lidahnya. Rasa sakit fisik itu sengaja diciptakannya hanya agar air mata am
Read more