Darah segar mengalir deras dari luka tembak di betis dan paha kiri Bayu, membasahi lantai beton gudang yang dingin. Rasa sakit yang luar biasa membakar saraf-saraf kakinya, memaksa tubuh raksasa itu berlutut dengan satu tangan menapak di tanah untuk menjaga keseimbangan. Di kursi besi, Maya meronta histeris di balik lakban penutup mulutnya. Air mata dan air susu bercampur menjadi satu, membasahi dadanya. Perempuan itu menatap Bayu dengan tatapan putus asa, merasa hancur karena gara-garalah tuannya kini harus terjebak dalam jebakan maut. Dari balik dinding kaca ruang kontrol di lantai dua, senyuman kemenangan Gideon semakin lebar. Pria matang itu merapikan kerah jasnya, merasa di atas angin. Di matanya, sang supir jalanan yang angkuh dan mengerikan itu kini tak lebih dari seekor binatang buruan yang sekarat. "Turunkan dia," perintah Gideon dingin kepada Victor dan para tentara bayaran lewat *intercom*. "Jangan bunuh dulu. Bawa dia ke hadapanku. Aku mau melihat sendiri bagaimana anji
더 보기