Selin membuka matanya, menatap wajah tampan Gideon yang sedang memujanya, dan memaksa dirinya untuk memfokuskan seluruh pikirannya pada pria ini. Ia mengalungkan lengannya di leher Gideon, membalas ciuman pria itu dengan gairah yang menggebu-gebu, mencoba membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa sembuh dari racun Bayu. Keduanya mencapai puncak dengan napas yang berpadu dan pelukan yang tak ingin dilepaskan. Satu jam kemudian, Selin duduk di ruang makan rumah mewah itu, mengenakan kemeja putih kebesaran milik Gideon. Pria itu baru saja memasakkannya sarapan—omelet dan toast hangat. Gideon meletakkan piring di depan Selin, lalu mengecup puncak kepala wanita itu sebelum duduk di seberangnya. "Aku bisa membiasakan diri melihat pemandangan ini setiap pagi," goda Gideon sambil menopang dagu, matanya tak lepas dari Selin. Selin tertawa kecil, tawa lepas yang sangat jarang ia keluarkan. "Kamu membuatku merasa sangat dimanja, Gideon." "Karena memang itu tempatmu, Sel," jawab G
더 보기