Ki Rekso menyeringai dingin seraya menunjuk ke arah sisa pecahan kuali tanah liat di lantai. Segumpal asap hitam pekat mendadak berputar liar membentuk pusaran angin mini, lalu melesat menembus atap rumbia gubuk menuju pekatnya langit malam. “Kutukan Sukmo Bolong sudah lepas dan terbang mencari jalannya sendiri,” bisik sang dukun dengan nada menusuk tulang. “Malam ini juga, khodam kuburanku akan melingkar di atas atap rumah megah itu.” “Setiap tarikan napas Nyonya Selin akan diracuni hawa anyir kubur, dan kulit porselennya akan mulai membusuk dari dalam tanpa bisa disembuhkan oleh dokter mana pun.” Maya menatap ke arah lubang ventilasi gubuk, menyaksikan bayangan hitam pekat yang melesat kencang membelah kegelapan menuju kawasan perumahan mewah. Sebuah senyuman dingin yang mengerikan merekah di bibir pucat sang perempuan desa. “Bagus... nikmati pelukan Bayu malam ini sepuasmu, Nyonya Ratu,” desis Maya seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Karena begitu fajar tiba,
Read more