LOGINFaris duduk di atas motornya di pinggir jalan tol yang sepi, helm sudah terlepas, keringat masih menempel di pelipis. Pengiriman rokok ke luar kota memaksanya meninggalkan kos sejak siang, dan sekarang matahari sudah condong ke barat. Di dalam saku celana, ponselnya terus bergetar oleh notifikasi, tapi ia menahan diri untuk tidak langsung membuka. Kepalanya penuh oleh bayangan Sinta pagi tadi. Pantat merah yang masih hangat di telapak tangannya, desahan wanita itu ketika rambutnya dijambak, cairan yang menetes di lantai dapur. Faris menggeser posisi duduknya, merasa kontolnya mulai mengeras hanya karena mengingat. Ia ketagihan. Sudah jelas. Setiap kali menutup mata, yang muncul hanya pinggang ramping Sinta, liang basah yang menjepitnya, dan wajah wanita itu yang basah oleh air mata kenikmatan. Ia membuka galeri, melihat foto yang ia ambil diam-diam sebelum berangkat: Sinta masih tertidur di kasurnya sendiri setelah mereka pindah dari dapu
Faris belum selesai. Ia menarik tubuh Sinta yang masih lemas, membalikkannya hingga berlutut di atas lantai dapur yang dingin dan basah. Daster jingga muda itu sudah tidak berguna lagi; Faris menyingsingkannya hingga ke pinggang, menyingkap pantat montok Sinta yang masih basah oleh cairan mereka sendiri. Dengan tangan kasar, ia menekan punggung Sinta hingga dada dan wajahnya menempel ke ubin, pantat terangkat tinggi, kaki terbuka lebar. “Tahan posisi ini,” perintah Faris parau. Sinta hanya bisa mengangguk lemah, jari-jarinya mencengkeram ubin yang licin. Faris berlutut di belakangnya, menekan kontolnya yang masih setengah tegang di celah pantat Sinta, menggesek naik-turun hingga batang itu kembali mengeras penuh. Tanpa peringatan, ia mendorong masuk lagi. Kepala kontol menembus liang yang masih longgar dan basah, disusul batang tebal hingga ke pangkal. Sinta mengerang panjang, tubuhnya terdorong ke depan oleh hentakan itu.
Faris tidak memberi Sinta kesempatan untuk berpikir lebih jauh. Dengan gerakan cepat dan kasar, ia memutar tubuh sang nyonya kos hingga menghadapnya, lalu mendorongnya mundur hingga punggung Sinta menabrak tepi meja makan. Daster jingga muda itu tersingkap hingga pinggang, memperlihatkan paha putih kenyal yang bergetar. Faris berlutut di lantai dapur yang masih basah bekas cipratan air, menarik pinggang Sinta turun hingga pantatnya mendarat di atas ubin dingin. “Faris… lantai ini kotor…” bisik Sinta, suaranya sudah pecah oleh nafsu. Namun protes itu hanya membuat Faris semakin berani. Ia menyingsingkan daster Sinta hingga ke dada, menyingkap sepasang payudara montok yang masih basah oleh keringat pagi. Mulutnya langsung menyambar puting kanan, menghisap kuat sambil lidahnya berputar liar. Sinta melengkungkan punggung, jari-jarinya menjambak rambut Faris, desahan tertahan keluar dari bibirnya. “Ahhh… jahat… kamu jahat banget…”
"Mbak Sinta, galon air di dekat tangga sudah saya ganti yang baru." Suara Faris terdengar begitu datar dan sopan, memecah keriuhan kecil di area dapur bersama lantai satu. Tiga rekan kerjanya sesama buruh linting kretek yang sedang menyeruput kopi hitam tampak sibuk mengencangkan tali sepatu dinas masing-masing. "Iya, Faris, terima kasih banyak sudah dibantu," sahut Sinta dengan senyuman ramah khas pemilik kos yang menjaga martabatnya. Gerakan tangan Sinta yang sedang mengelap meja makan terlihat begitu anggun dan berjarak, seolah tidak pernah ada skandal terlarang apa pun di antara mereka. "Wah, Faris sekarang rajin banget bantu-bantu ibu kos," celetuk Joko seraya menyambar bungkus rokoknya dari atas meja. "Pantas saja uang sewa kamarmu nggak pernah ditagih galak." Tawa renyah buruh-buruh lain menyusul, membuat pipi Sinta diam-diam memanas terbakar rasa gugup. "Semua anak kos di sini saya perlakukan sama, Mas Joko," tanggap Sinta cepat seraya memutar tubuhnya ke arah wastafel.
"Terserah kamu, Nis! Capek aku didebat terus tiap malam!"Faris menekan tombol merah di layar ponselnya dengan dengusan kasar, lalu melempar benda pipih itu ke atas kasur busa di kamarnya.Nisa, kekasihnya di kampung halaman yang sudah dua tahun menjalani hubungan jarak jauh dengannya, kembali merajuk hebat hanya karena Faris terlambat membalas pesan WhatsApp selama dua jam akibat lembur di lantai pelintingan kretek.Tuduhan tak berdasar, kata-kata judes, dan ancaman putus yang berulang kali dilontarkan gadis itu membuat kepala Faris mendidih oleh emosi yang tertahan.Napas pemuda itu memburu panas, sementara darah mudanya bergolak liar menuntut sebuah pelampiasan.Langkah kaki tegap Faris bergerak cepat menuruni anak tangga, menyusuri koridor lantai satu yang temaram menuju kamar pengelola di ujung lorong.Tanpa ragu sedikit pun, jemari kasarnya mendorong pintu kamar Sinta yang tidak terkunci rapat, lalu lekas memutar slot grendel di baliknya.Klek.Sinta yang sedang duduk menyisir r
"Mmmhh... pintunya jangan lupa dikunci rapat, Faris..." Desahan cemas itu lolos dari bibir Sinta saat mendapati sosok pemuda bertubuh tegap itu melangkah masuk ke kamarnya tanpa mengetuk. Faris segera memutar kunci ganda dan menurunkan slot gerendel pintu kayu jati tersebut dengan gerakan tenang. Aroma pekat tembakau berpadu cengkeh seketika menguar dari seragam biru dongker yang masih melekat di tubuh sang buruh pabrik. "Tenang saja, Mbak. Anak-anak kos yang lain masih tertahan lembur sampai jam sepuluh malam nanti," bisik Faris seraya menyunggingkan senyuman tipis. Sinta menelan ludah dengan susah payah, memeluk dadanya sendiri dari atas tepi ranjang. Wanita berusia tiga puluh tahunan itu hanya mengenakan daster satin merah marun tanpa lengan yang mencetak jelas lekuk tubuh sintalnya. "Kamu... kamu mau apa ke sini sore-sore begini, Ris?" tanya Sinta ragu dengan nada suara yang bergetar menahan gugup. "Pabrik lagi kejar target ekspor, Mbak Sinta. Pundak dan pinggang saya rasa
Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S
"I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p
Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu
Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon







