Pertanyaan Ana kalah oleh suara gemericik air yang memenuhi kamar mandi. Ivy tidak menjawab, dan memang tidak akan pernah bisa menjawab. Baginya, ruangan itu sunyi. Hanya ada dirinya, keputusasaan yang pekat, dan permukaan air bathtub yang bergoyang tenang seolah mengundangnya untuk tidur.“Ivy, dengarkan aku.” Ana berdiri di samping Ivy dengan wajah tegang yang menyiratkan ketakutan mendalam. “Kamu... tidak akan melakukan hal nekat seperti ibumu, kan?”“Jangan, ya, Nak…”“Aku yakin kamu kuat! Dunia itu luas. Kamu harus panjang umur untuk menjelajahinya satu per satu.”Ivy melangkah mendekati bathtub, lalu mendudukkan dirinya di lantai keramik yang dingin. Perlahan ia rebahkan kepalanya di pinggiran porselen. Tatapannya menerawang ke air yang terus meluap, sementara jemarinya bergerak mekanis, sesekali menyentuh dan memainkan permukaan air dengan riak-riak kecil yang rapuh. Ia tampak seperti boneka hidup yang telah kehilangan jiwa. Melihat Ivy membisu dalam kekosongan itu, rasa pani
더 보기