Dengan napas yang masih tersengal, Ana menarik diri. Ia memaksakan jarak, meski hatinya meronta ingin kembali mendekap sang putra. Akan tetapi, saat matanya bertemu dengan tatapan Lucas yang kini tampak begitu mendamba, begitu penuh harap, ia merasa ditampar dengan keras oleh kesalahan yang lagi-lagi dia lakukan tanpa sengaja. Bagaimana jika pelukan yang bermaksud menenangkan tadi, malah menjadi bumbu paling mematikan bagi perasaan yang sedang tumbuh di dalam diri Lucas? Tangan Ana bergetar dan dia refleks melenting ke belakang. Semakin melebarkan jarak antara dirinya dengan pemuda itu. “Ini salah! Aku tidak hati-hati,” batin Ana bergemuruh, dan dia merasa semakin ketakutan sekarang. “Jika aku masih berada di tubuh Ivy, sikap lunak yang aku tunjukkan hanya akan membuat Lucas jatuh semakin dalam. Aku tidak boleh memberikan harapan palsu padanya, di saat aku sendiri tidak tahu, kapan Ivy bisa melawan dirinya sendiri.”Ana menyeka jejak basah di pipinya dengan kasar setelah mengeraska
더 보기