Bisikan Rayyan yang sarat ancaman mematikan itu menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Amira terpaku kaku di atas bantal sutra, menatap manik mata hitam Sang Sultan yang memancarkan kegilaan tanpa penyesalan sedikit pun.Namun, saat mata Amira turun menelusuri bahu kiri Rayyan, napas gadis itu tertahan.Di balik kemeja hitam tipis yang melekat pada dada bidangnya, noda darah segar berbau hanyir merembes pelan, membendung kain yang robek akibat tersayat pengait pelana saat kuda itu melintas kencang."Anda... Anda terluka, Yang Mulia," cicit Amira, kepanikannya mendadak bergeser dari masalah diplomasi menuju rasa cemas yang tak sanggup ia kekang.Tanpa memedulikan pening di kepalanya, Amira mendorong dada tegap Rayyan pelan. "Luka bahu Anda sangat parah. Kita harus memanggil tabib—""Aku tidak peduli pada luka ini, Amira," potong Rayyan serak, menolak bergeser satu inci pun."Tapi hamba peduli!" pekik Amira tertahan, matanya mendadak berkaca-kaca oleh perpaduan rasa lelah, a
最終更新日 : 2026-08-15 続きを読む