“Bapak kenapa berlutut di sini, Pak?” Kaki Amaya bergeser sedikit, menjauh dari posisi Dhanadoya saat ini. Jantungnya berdegup sangat cepat, apa yang sebenarnya mau dilakukan pria ini?“Kakimu bengkak lagi.” Suara Dhanadoya pelan. “Geser kemari kakimu, biar aku obati.”Amaya melirik ke pergelangan kakinya yang agak merah. Memang bengkak lagi, tetapi sikap tiba-tiba Dhanadoya membuat Amaya panik dan bingung.Beberapa menit yang lalu Dhanadoya begitu dingin, tegas, dan menyeramkan. Tetapi sekarang, kenapa pria ini rela berlutut hanya untuk mengobati kakinya?“Nanti bisa saya obati sendiri kok, Pak.” Amaya menolak. Situasi ini sangat aneh, lebih aneh dari saat di rumah tempo hari.“Saya tidak memberi tawaran, ini perintah.” Nada bicara Dhanadoya kini lebih tegas. “Kemarikan kakimu, Risjad!”Amaya menggigit bibirnya. Melihat Dhanadoya menatap serius dan tak menerima bantahan, pelan-pelan Amaya menggeser kakinya yang sakit ke arah Dhanadoya.Dhanadoya mulai membuka penutup salep yang dibaw
Last Updated : 2026-09-24 Read more