Amaya berbalik. Pandangannya tertuju pada Tamara dan Sarah yang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bersedekap dada.Ekspresi Amaya berubah datar. Dia belum berkata apa-apa saat Tamara dan Sarah melangkah mendekat, menghampiri tempatnya berdiri.“May, May. Kamu kalau mau beli gaun, beli aja, May. Napa tanya-tanya harga, sih? Kayak gak punya uang saja,” sindir Tamara, melirik pada deretan gaun mewah yang terpajang di sisi kirinya, “eh, maaf. Aku lupa, kamu memang gak punya tabungan banyak. Bahkan terakhir kali saja, aku yang traktir tas buat kamu.”Amaya diam menatap pada saudara tirinya itu. Sampai mendengar suara Sarah juga.“Setelah menikah, suamimu pasti menafkahimu. Tapi, kalau gak cukup, jangan dipaksakan ya, May. Kasihan suamimu udah banting tulang, tapi uangnya malah kamu hambur-hamburin buat beli gaun mahal di sini.” Sarah menatap penuh simpati yang dibuat-buat, nada bicaranya terdengar begitu bijak.Jari-jari Amaya mengepal erat di samping tubuh. Muak rasanya menghadap
Last Updated : 2026-09-28 Read more