Yura refleks mengusap tengkuknya yang tidak gatal, sementara senyum canggung terukir kaku di bibirnya. Mau tidak mau, ia harus menghadapi kenyataan bahwa skenario karangan Lilis ini sukses membawanya masuk ke dalam perangkap yang paling ia takuti sekaligus harapkan."Ini ponakan gue, Ar. Anak dari... eh, sodara sepupu," dalih Yura setengah berbohong, berusaha mati-matian menata suaranya agar tidak terdengar seperti orang sakau. "Nyokapnya lagi repot, jadi sebagai Tante yang budiman dan berbakti, gue ditugaskan untuk jadi tukang jaga bayi hari ini."Arya mengangkat sebelah alisnya, senyum tipis di bibirnya melebar. "Tante yang budiman, ya? Wah, kemajuan besar buat ukuran lo yang dulu kalau denger tangisan bayi di kampus langsung lari ngibrit kayak dikejar zombi lo.""Eh, kampret, jangan buka kartu gue dong!" protes Yura spontan, lupa sejenak kalau dirinya sedang ingin menjaga imej di depan sang pujaan hati. Begitu sadar, ia langsung menutup mulutnya rapat-rapat sambil melotot. "Maksud g
Última actualización : 2026-09-11 Leer más