Mobil kembali melaju. Anna menatap ke luar jendela, lalu alisnya bertaut saat menyadari rute yang diambil berbeda.“Ini bukan jalan pulang ke rumah,” ujar Anna heran, menoleh pada Arga.Arga hanya tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan. “Memang bukan.”Anna menyipitkan matanya, menatap pria di sampingnya itu curiga. “Kamu mau membawaku ke mana lagi, Arga?” Sambil tersenyum.“Ke tempat di mana aku bisa memastikan tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang mengganggu ketenangan istriku,” jawab Arga sok pede. Anna mengerutkan dahinya dengan mata membulat lebar. “Apa ini maksudnya?” Tertawa kecil.Dia melirik Anna sekilas, lalu menyunggingkan senyum tipis. “Lagi pula, menikmati waktu berdua dengan wanita secantik istriku ini, bukan ide buruk.”‘Ish, baru sembuh saja sudah pintar ngomong.” Anna mendesis pelan, memalingkan wajahnya ke jendela untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Dia menahan senyum, pura-pura tidak terpengaruh dengan lontaran kata-kata
Read more