“Apa Papa sudah sadar? Kapan kita bisa ketemu?”“Ehem!”Yuna kembali berdeham pelan. Jarinya mengusap sudut mata yang mulai basah, lalu memaksakan senyum tipis di bibirnya. “Papa kalian ... ehm, sedang dibawa ke tempat yang sangat jauh. Jadi, kalian berdua sekarang fokus saja sekolah dan les dulu, oke?”Kaisar menatap Yuna dengan dahi berkerut dalam. “Kok Tante bicaranya begitu?”Kayla melipat tangan di dada, matanya menyipit curiga. “Jangan-jangan Tante sedang menutup-nutupi sesuatu dari kita?”Yuna mengusap tengkuknya, bingung mencari alasan lain. “Tidak ada yang ditutupi. Papa kalian butuh perawatan khusus di luar negeri.”“Lalu kenapa tempatnya dirahasiakan?” sergah Kaisar cepat, tidak percaya begitu saja. “Biasanya kalau Papa dipindah rumah sakit, Paman David pasti mengabari kita.”“Iya, Tante,” timpal Kayla dengan suara meninggi. “Mama juga tadi menangis, sampai pingsan lagi. Tante pasti bohong, kan?”Yuna menarik napas panjang, makin terdesak oleh pertanyaan dua bocah pintar it
Read more