Yuna bergeser mendekat, menatap wajah sahabatnya yang tampak begitu tegang. “Kamu takut, tapi kamu juga marah dan ingin berontak, kan?”“Aku sangat marah,” sahut Anna cepat. Dia membusungkan dada, menegakkan punggungnya yang selama ini terasa berat menanggung beban. Tatapannya menajam pada lukisan abstrak. “Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh anak-anakku lagi. Kalau mereka menginginkan perang, akan kuberikan!”Yuna menatapnya lekat-lekat, perubahan aura itu. “Jadi, ini keputusanmu?”“Ya! Aku akan maju. Akan kuhadapi mereka semua.”Yuna menyunggingkan senyum tipis. “Aku setuju. Tapi, kamu juga harus memikirkan perasaan Regan. Apa yang bakal kamu lakukan pada sad boy satu itu?”Anna menghela napas panjang. Ada rasa bersalah yang menusuk dadanya saat nama Regan disebut. Pria itu selalu ada untuknya, tapi hatinya tak pernah sanggup memberi balasan yang setara. “Aku sangat merasa bersalah padanya. Tapi aku tahu Regan pria yang dewasa, dia pasti akan memahaminya. Nanti aku
더 보기