“Arga ....” Nama itu lolos dari bibir Anna, lalu matanya terpejam. Kesadarannya runtuh total, tak sanggup lagi menahan hantaman duka yang menghujam dadanya. Tubuhnya mendadak terkulai. “Anna! Anna, bangun!” jerit Yuna panik, menepuk-nepuk pipi sahabatnya yang pucat pasi. Langkah kaki terburu-buru menghentak dari arah lorong. Regan muncul dengan wajah tegang. “Apa yang terjadi, Yuna? Aku terlambat. Kenapa Anna jadi seperti ini?” Yuna menangis menatap Regan. “Regan, Arga meninggal, dan Anna–” Dia menggeleng. Tanpa membuang waktu, Regan menyusupkan kedua lengannya ke bawah punggung, lalu mengangkat Anna ala bridal style. Pengacara berkacamata tebal itu menepuk bahu Regan pelan. “Bawa Ibu Anna menjauh dulu dari area ini. Amankan kondisinya. Sisanya di sini, biar saya yang mengurus.” Regan mengangguk. Yuna menatap pengacara dengan mata sembap. “Terima kasih banyak, Pak.” Sementara itu, kondisi di dalam kian mencekam. Tubuh Arga di atas ranjang kini sudah tertutup kain putih sepe
Read more