Ruang presidential suite. Arga masih terbaring dengan selang respirator menempel di mulut serta kabel indikator melingkari dada. Nadia menatap kesal, dia memasang wajah sedih hanya untuk memperdalam aktingnya. ‘Sebenarnya kalau Arga mati ada untungnya juga, aku jadi terbebas dari ancaman itu. Bukankah yang mereka inginkan Arga hancur? Hm, bagaimana kalau besok aku buat dia mati saja. Habis itu aku pergi ke luar negeri menikmati kebebasan dan mencari laki-laki baru. Yang penting, status asliku tidak terbongkar,’ batinnya. David duduk di kursi samping bed, enggan beranjak sejak kemarin, kecuali untuk urusan tertentu saja. Dia menolak keluar karena tidak ingin membiarkan Hary menguasai Arga. Hary berdiri di ujung bed, dengan raut wajah keras. “Keluarlah, David. Ini area keluarga kami. Kamu tidak punya hak berada di sini sepanjang malam. Kamu itu cuma asisten, dan tidak usah sok dominan.” David menatap Hary tanpa berkedip. “Kalau bukan karena fakta Om adalah ayah kandung Arga, tapi ay
Read more