تسجيل الدخول“Arga ....” Nama itu lolos dari bibir Anna, lalu matanya terpejam. Kesadarannya runtuh total, tak sanggup lagi menahan hantaman duka yang menghujam dadanya. Tubuhnya mendadak terkulai. “Anna! Anna, bangun!” jerit Yuna panik, menepuk-nepuk pipi sahabatnya yang pucat pasi. Langkah kaki terburu-buru menghentak dari arah lorong. Regan muncul dengan wajah tegang. “Apa yang terjadi, Yuna? Aku terlambat. Kenapa Anna jadi seperti ini?” Yuna menangis menatap Regan. “Regan, Arga meninggal, dan Anna–” Dia menggeleng. Tanpa membuang waktu, Regan menyusupkan kedua lengannya ke bawah punggung, lalu mengangkat Anna ala bridal style. Pengacara berkacamata tebal itu menepuk bahu Regan pelan. “Bawa Ibu Anna menjauh dulu dari area ini. Amankan kondisinya. Sisanya di sini, biar saya yang mengurus.” Regan mengangguk. Yuna menatap pengacara dengan mata sembap. “Terima kasih banyak, Pak.” Sementara itu, kondisi di dalam kian mencekam. Tubuh Arga di atas ranjang kini sudah tertutup kain putih sepe
“Yuna, apa yang terjadi?”Suara Anna bergetar hebat. Tubuhnya membeku, matanya membelalak lebar menyaksikan kekacauan di depan mata.Tangannya mencengkeram lengan Yuna. “Kenapa mereka berlari seperti itu? Arga baik-baik saja, kan? Katakan padaku Arga tidak apa-apa!”Yuna ikut gelisah. Dadanya berdebar kencang saat melihat iring-iringan tim medis dengan troli darurat menembus pintu ruang VIP. Pikirannya langsung menyimpulkan skenario terburuk, tapi dia berusaha sekuat tenaga menahan kepanikan. Tangannya meremas bahu Anna, mencoba memberi ketenangan yang bahkan tidak dia miliki.“Tenang dulu, Anna. Jangan berpikiran buruk,” bisik Yuna dengan suara gemetar. “Mungkin cuma pemeriksaan rutin. Dan Arga sedang drop saja. Arga pria yang kuat, dia pasti bertahan.”Namun Anna menggeleng keras. Instingnya menjerit bahwa ada hal fatal yang baru saja terjadi. “Aku mau masuk! Aku mau melihatnya!”Saat Anna hendak melangkah maju, Yuna menahan pinggangnya kencang. “Tunggu dulu!”Dari arah berlawana
Tiga karangan bunga raksasa berdiri gagah dengan papan nama besar yang memajang kalimat sindiran tajam atas segala aksi bejatnya. Puluhan orang di area parkir dan jalan raya berkumpul, sedang membaca tiap kata dengan gelak tawa riuh. Logika Nadia runtuh sepenuhnya. Dia menyerbu karangan bunga pertama seperti orang kesetanan. Tangannya mencengkeram papan gabus itu, merobek bunga-bunga plastik di atasnya dan menendang penyangga kayunya hingga ambruk ke aspal. “Bohong! Ini semua fitnah! Ini semua bohong!” jerit Nadia histeris sambil terus merusak karangan bunga kedua dengan tangannya. Di sekelilingnya, puluhan orang bukannya iba, melainkan makin gencar menyorotkan kamera ponsel. “Lihat itu, malah jadi gila!” “Ayo rekam, masukkan ke medsos biar makin viral dokter pelakor ini!” Di sekelilingnya, puluhan orang bukannya iba, melainkan makin gencar menyorotkan kamera ponsel. “Lihat itu, malah jadi gila!” “Ayo rekam, masukkan ke medsos biar makin viral dokter pelakor ini!” “Dokter Na
Tiga karangan bunga berukuran sangat besar berdiri kokoh tepat di depan pintu kaca utama, menyita perhatian siapa saja yang melintas di jalan raya. Tulisan di atas papan bunga itu tercetak tebal dan sangat mencolok:[Selamat atas keberhasilan dokter Nadia yang sukses menghancurkan rumah tangga orang.][Apresiasi tinggi untuk dokter Nadia dalam prestasi luar biasanya, memisahkan dua anak dari ayah kandungnya selama bertahun-tahun.][Selamat menikmati topeng yang runtuh, dr. Nadia. Karma tidak pernah salah alamat.]Orang-orang di luar gedung langsung berkerumun rapat, membaca tiap baris kalimat dengan wajah melongo tak percaya.“Siapa sebenarnya dokter Nadia ini?” tanya seorang pria paruh baya yang memegang helm. “Wah, keterlaluan sekali kalau tulisan di papan bunga ini benar.”“Siapa lagi? Itu dokter spesialis muda!” sahut seorang lainnya. “Sungguh tidak menyangka, mukanya manis, tapi kelakuannya benar-benar merindingkan!”Di lantai atas, dari balik tirai salah satu ruang rawat yang
“Bagaimana?!” desis David setengah berbisik, matanya membelalak menatap Arga yang sudah duduk di tepi kasur dengan selang infus yang terlepas. “Wanita itu benar-benar beraksi?” Arga meringis menahan nyeri yang menusuk di dadanya, peluh dingin mulai membasahi pelipisnya. Tangannya yang agak gemetar menunjuk ke arah katup selang infus yang sudah terisolasi. “Bawa ... bawa sampel cairan ini sekarang ke laboratorium,” bisik Arga berat dan terputus-putus. Matanya menatap David penuh penekanan. “Jadikan ini bukti otentik percobaan pembunuhan. Lalu, langsung jalankan eksekusi selanjutnya tanpa menunda waktu.” David menatap tabung selang itu, lalu menatap Arga dan mengangguk. Pemahaman cepat terjalin di antara mereka. “Aku paham. Aku akan bawa sampel ini ke Sintia sekarang. Tapi kamu tidur lagi. Bukannya ceritanya kamu mau mati. Mana ada calon mayat palsu duduk gini.” “Hish ….” Arga merintih kesal. Lalu, David membantu Arga kembali berbaring. “Kapan aku bisa keluar dari tempat sialan i
David mengusap tengkuknya. “Sebagian besar sudah terkumpul. Rekam jejak, manipulasi dokumen, sampai aliran dana. Hanya saja lokasi anak Profesor Handoko yang sampai detik ini belum berhasil kita temukan.” “Langsung bergerak hari ini. Jangan tunggu aku mati kaku di sini!” perintah Arga. “Hem. Aku tahu. Makin cepat makin baik. Dan kamu bisa makin cepat bebas ketemu sama Anna dan si kembar.” “Panggil Sintia. Dia yang harus memegang penuh laboratorium begitu hal fatal itu terjadi nanti.” “Aku sudah menekan Sintia sejak kemarin,” timpal David. “Aku tegaskan padanya, kalau dia masih berani menolak atau main dua kaki, berkas manipulasi tes DNA palsu itu akan langsung aku serahkan ke proses hukum.” Itulah alasannya kenapa saat dulu ada pemalsuan tes DNA, Arga masih membiarkan Sintia berada di rumah sakit itu karena suatu saat akan bisa digunakan. Arga mendengkus pelan. Tatapannya kembali kosong, menatap lurus ke arah langit-langit. Bayangan wajah Anna dan gelak tawa dua anaknya terpampan
“Dokter Arga, IGD sedang kekurangan dokter. Ada pasien banyak kecelakaan. Mohon Anda segera datang ke ruangan. Karena juga ada anak kecil yang terluka akibat terkena pecahan kaca cukup dalam.”Arga menutup panggilan, lalu menyambar masker medis dan memakainya sambil berjalan cepat keluar dari ruang
Elara Art Studio. Tempat ini dibangun Anna dari nol. Sebuah bisnis level menengah di bidang seni lukis yang merangkak dari bawah. Untuk mengenalkan karyanya, Anna masih sering mengikuti pameran bersama, menitipkan lukisan di galeri seni, hingga mengambil proyek mural dan wall printing. Bangunan du
“Bu Anna, lain kali ajari anak Anda untuk bertindak benar. Jangan cari masalah. Anak saya jadi kena mental karena trofinya hancur. Selamat mencari sekolah baru.” Anna menatap tajam. “Mereka bukan anak haram. Dan merekalah pemenang yang sebenarnya. Hanya kalah dengan uang Anda! Lain kali, ajari ana
Pagi harinya, Arga baru kembali ke rumah dengan penampilan kusut, seperti tidak tidur semalaman. Dia melangkah cepat ke kamarnya, tapi saat memegang handle pintu, dia menahan sebentar. Saat ini dadanya sedang tak karuan dan banyak hal yang ingin dikatakan pada Anna. Masuk kamar, dan sangat yaki







