“Kalian udah siap? Yuk, berangkat!” ajak Jihan, meminjamkan satu helmnya pada Miri.“Kamu biar dibonceng Jihan aja. Rumah kalian juga searah,” Kemal mengingatkan, menarik resleting jaketnya hingga menutupi leher.Seperti usul Jihan, Miri dan Kemal ikut berkumpul di pintu belakang restoran selepas jam kerja. Lampu jalanan kota menyoroti sepanjang jalan, menemani perjalanan mereka yang mulai lengang. Sampai di lokasi, hampir saja mereka tidak mendapat meja.Kemal memesankan makanan, tiga porsi nasi goreng kambing berukuran besar—yang jika masih sisa, dengan senang hati mereka bawa pulang untuk dimakan lagi besok. Sambil menunggu pesanan, ketiganya menikmati jeruk panas.“Hangatnya … di umur segini, kenapa, ya, kita lebih suka yang sederhana? Waktu masih muda, kayaknya kita masih kuat nyobain minuman manis dengan nama teraneh di menu,” ujar Jihan, setelah menyesap minumannya.“Karena umur segini, lutut dan punggung udah mulai pegal linu. Kena gula dan minyak dikit, besok pagi langsung pe
Read more