“Maaf, kamu Kemirayu, ya?” ucap pria klimis itu dengan suara parau.“Iya, betul. “Panggil Miri saja, Pak,” balas Miri, melemparkan pandangan pada Kemal yang masih berdiri di sisinya.Kemal hanya mengangkat bahu.Pria itu meraih ke dalam kantung jasnya, lalu menyerahkan sebuah kartu nama berwarna putih. Bahannya tebal, dengan tinta emas timbul yang memamerkan nama dan jabatan si pria tua.“Perkenalkan, nama saya Malik Hanasta. Saya adalah pengacara keluarga Bu Aisha,” ucapnya.Miri membaca nama yang tertera, sama persis dengan ucapan pria di hadapannya. Pria itu berdeham lagi, sebelum melanjutkan.“Awalnya saya berniat untuk mampir ke rumah Bu Aisha dalam beberapa waktu ke depan. Tapi saat melihat Anda, saya merasa memperkenalkan diri sekarang lebih baik daripada nanti,” tambah Pak Malik.“Ada yang perlu dibicarakan, Pak?” tanya Miri.Malik Hanasta menggeleng. “Untuk saat ini tidak. Setelah Anda merasa lebih baik, kita bisa bicara. Hubungi saja nomor yang ada di kartu. Permisi,” ungka
Read more