Ruang tamu Olivia penuh dengan tisu dimana-mana, sejak dua jam lalu Mama menangis tersedu-sedu disaksikan oleh Olivia, Kafka dan juga Mbok. Olivia sudah berkali-kali berusaha menenangkan Mamanya tapi ternyata susah, memang sih sejak awal kedatangan Kafka, Mama langsung memeluk cowok itu dan menangis heboh.“Mama tuh nggak tega sama Kafka, ya ampun Tuhan. Salah apa sih anak ini sampai Ayahnya bejat sekali" Mama masih mengusap air matanya, di sebelah Mama ada Kafka yang juga mengusap pundak Mama. “Maafkan Tante, Kafka. Tante dulu, nggak nyari tau tentang keluarga kamu. Tante pikir, Bunda kamu nggak mau cerita karena privacy, tapi ternyata ada yang lebih menyakitkan dari itu. Pengkhianatan." Kafka mengangguk, lalu mengusap kembali lengan Mama. “Gapapa, Tante. Saya udah biasa kok," Mama mendongak, matanya merah sekali, hidungnya juga merah dan suaranya serak. “Harusnya Tante curiga kenapa kamu tinggal sendiri, Tante bahkan nggak berusaha nyari tau tentang keluarga kamu. Maafkan Tante, N
Read more