"Gue sama sekali nggak mengerti maksud lo ngomong kayak gitu, apa?" Kafka menoleh, mendapati wajah ketus Olivia. Peluhnya menetes dari kening. "Maksud omongan gue yang mana?" "Lo pikir gue akan bunuh diri?" Kafka mengangguk. "Gue pikir lo akan beneran bunuh diri, Oliver tadi hubungin gue. Dia nyariin lo, pas dia bilang lo belum pulang ke rumah. Pikiran gue kalut, gue bingung harus cari ke mana lagi," akunya. Keheningan kembali menyelimuti kedua insan yang duduk saling bertolak belakang. Sejak tadi, Olivia tidak mau untuk menatap Kafka. Entah kenapa, tiba-tiba rasa kesalnya menguap ke udara, tergantikan oleh rasa rindu yang mendadak datang. "Kalau nggak berniat buat balik sama gue, nggak usah ngasih harapan." Kafka menghela napas. Panjang dan berat. "Ngasih harapan, gimana? Gue selama juga nggak pernah macam-macam." Olivia terkekeh. Di sela kekehannya sebenarnya dia ingin menangis, lagi. Pandangannya menatap lurus ke depan, pada dinding yang sudah retak. Dinding putih itu ter
Read more