Teilen

BAB 95.

last update Veröffentlichungsdatum: 24.07.2026 17:17:56

Olivia baru saja meletakkan sepatunya di rak sepatu saat pandangannya menatap mobil abu memasuki pekarangan rumahnya, matanya menyipit. Sepertinya dia tidak mengenal pemilik mobil itu.

Tubuhnya belum berpindah tempat saat Mama tiba-tiba keluar sambil telponan dengan seseorang, bergerak maju menghampiri mobil itu.

Mama dengan seorang wanita yang seumurannya terlihat bersalaman heboh ala sosialita, lalu wanita itu menoleh kepada Olivia. “Oh, ini Olivia ya?"

Olivia mengangguk lalu menghampiri wani
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 161.

    "Apa perlu gue nembak lo ulang? Biar satu sekolah tau, kalau lo itu punya gue dan akan selalu jadi punya gue."Ucapan Kafka berhasil membuat kepala Olivia menggeleng cepat."Nggak, malu." Kafka yang sedang berdiri, kembali menganggukkan kepalanya. "Ya … kali aja Lo mau. Biar semua orang tau kalau Olivia cuma buat Kafka.""Apa sih, Kafka …." "Lah? Salting? Merah itu pipinya …" Kafka menunjuk pipi Olivia yang bersemu kemerahan.Kedua tangan Olivia naik memegang pipinya, dia sepertinya harus menjauhi Kafka mulai saat ini. Dekat-dekat dengan Kafka tidak membuat Olivia nyaman, justru merasa terancam.Sedikit salah saja taruhannya malu.Kafka beranjak meninggalkan Olivia yang terduduk dengan menahan senyumnya, sampai pegal kedua pipinya. Setelah Kafka benar-benar keluar dari kelas, barulah Olivia bisa tersenyum lebar sembari menunduk."Olivia!" Suara Sarah menggema di ambang pintu kelasnya. Gadis itu melangkah cepat menuju arahnya. "Lo jatuh di koridor tadi? Si Panji lihat." Sarah meneli

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAN 160.

    Olivia baru saja menginjakkan kaki di sekolah dengan keadaan riuh ramai. Koridor yang biasanya sepi, kini ramai dan penuh dengan orang-orang berlarian.Beberapa dari mereka datang dengan seragam yang basah kuyup, wajah kesal dan juga bibir misuh-misuh.Kafka yang menyadari kondisi di depannya sudah tidak lagi kondusif langsung menarik Olivia menuju lantai dua, tempat kelas mereka berada."Ngapain buru-buru sih, Kafka? Nggak lihat orang-orang lagi pada lari-larian, gue takut ketabrak sama mereka." Olivia masih mengikuti langkah besar Kafka.Kafka sibuk membelokkan badannya kanan dan kiri, menghindari kerumunan orang yang saling berteriak.Keadaan lantai dua juga tidak kalah kacau, air menggenang di lantai, bekas jejak kaki, bekas tanah. Oh, jangan lupakan bekas-bekas tisu yang memenuhi tempat sampah.Olivia bergidik ngeri memandang ini semua. Dia tidak habis pikir kalau ternyata efek banjir tadi juga membuat sebagian anak-anak di sekolahnya kerepotan."Kafka," Olivia baru merasakan tel

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 159

    Sinar matahari datang dengan langit yang masih pucat, sisa hujan semalam meninggalkan titik-titik air di sepanjang kaca jendela dan dedaunan di halaman rumah. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, membawa aroma tanah basah yang samar setiap kali angin masuk melalui celah jendela. Olivia berdiri di depan cermin, merapikan kerah seragamnya untuk kesekian kali. Setelahnya, menyemprotkan parfum di beberapa titik. Olivia telat bangun hari ini karena semalam dia tidak bisa tidur karena listrik padam, hanya ditemani cahaya senter dari ponsel, dia berusaha berkali-kali memejamkan mata. Tapi, tidak berhasil Hingga, pukul empat pagi dia baru bisa tertidur dengan nyenyak karena listrik sudah menyala. Hembusan napas lelahnya lagi-lagi keluar dari bibir. Gara-gara kejadian itu, dia jadi telat bangun dan lagi, Kafka yang katanya mau menjemputnya belum kunjung tiba. Olivia melirik jam di ponselnya. Pukul tujuh lewat dua menit. "Astaga." Olivia buru-buru mengambil dasinya yang tergeletak di a

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 158.

    Langit sudah berubah menjadi hitam pekat ketika Olivia akhirnya menyelesaikan tumpukan tugas sekolahnya. Ulangan harian yang tinggal menghitung hari membuat meja belajarnya nyaris tak pernah benar-benar kosong dari buku dan catatan. Di sampingnya, semangkuk buah-buahan pemberian Mbok tadi masih tersisa, menemani malam belajarnya. Getaran panjang dari ponselnya sedikit mengalihkan perhatian Olivia. Ekor matanya melirik layar, menangkap nama yang tertera di sana. Laki-laki ini lagi. "Apa?" jawab Olivia ketus. "Gue ada titipin salt bread ke nyokap lo, nanti di —" "Nggak!" potong Olivia cepat. "Gue lagi belajar, jangan ke sini. Nggak bosen emang hampir tiap malam lo dateng?" Terdengar suara kekehan di seberang sana. "Santai, cuma titip makanan. Gue nggak mampir dulu, ada urusan." "Ya udah." Olivia langsung memutus sambungan sebelum laki-laki itu sempat mengatakan hal lain. Ponselnya diletakkan kembali di atas meja, sedikit membantingnya. Tatapannya kembali pada buku yang terbuka d

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 157.

    Bus kota sore ini tidak terlalu penuh, hanya ada beberapa orang termasuk Olivia yang duduk di kursi tengah serta dua orang lainnya di kursi belakang. Saat pintu depan bus hampir tertutup, tiba-tiba sosok laki-laki menghalangi pintunya. Membuat sang sopir ngedumel. Olivia mendongak sedikit, melihat siapa yang menahan bus untuk segera pergi. Ternyata seorang laki-laki yang sejak pagi Olivia hindari kembali menampakkan wajahnya di bus yang sama dengannya. Sialnya lagi, laki-laki ini memilih duduk di sebelahnya. Dari sekian banyak kursi kosong, kenapa juga harus duduk di sebelahnya. "Halo, calon pacar." Olivia memutar bola matanya jengah, tangannya menarik tas yang sejak tadi dia letakkan di kursi samping. "Ngapain lo naik bus, mobil lo ditinggal di sekolah?" Tanpa ragu, laki-laki itu mengangguk. "Demi bareng sama lo, karena gue tau kalau lo lagi menghindar dari gue." Selalu saja membuat alasan. "Nggak jelas lo. Gue nggak menghindar dari lo, cuma emang lagi nggak mood aja," jawannya

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 156.

    Kafka datang ke sekolah dengan wajah lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Rio yang menyadari perubahan Kafka langsung mengetahui ada sesuatu yang disembunyikan darinya. "Kenapa sih, Kaf? Beda bener lo hari ini." Kafka yang sedang duduk di kursi hanya diam, sesekali menundukkan wajahnya lalu tersenyum lebar sekali. Sampai membuat Rio meringis. "Jatuh cinta lo, ya?" tebak Rio. "Atau, udah nembak dia?" Kafka menoleh ke belakang, memukul kepala Rio dengan buku catatan milik cowko itu. "Berisik, bego!" "Lagian lo nggak jelas banget dari tadi, cengar cengir. Kesurupan setan sekolah lo, ya." Kafka kembali membalikan badannya, melirik tempat Olivia duduk yang masih kosong. Rio yang menyadari arah tatap Kafka, langsung mengangguk paham. "Kan, bener. Kesambet setan dari kelas ini sih." "Nggak." "Terus?" "Nggak ada terus-terus." Olivia memasuki ruang kelas dengan jaket berwarna putih, wajahnya ditutupi menggunakan masker. Saat dia menatap sekeliling kelas, matanya bersitatap deng

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 3.

    Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 2.

    “Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 1.

    “Peraturan pertama, jangan deket-deket sama anak-anak The Syndicate. Apalagi sama Kafka. Lo gak mau kena kartu merah di minggu pertama pindah kan, Liv?"Sarah, teman sebangku Olivia, berbisik dengan nada cemas saat mereka baru saja melewati koridor utama. Hari ini adalah tepat satu minggu sejak Ol

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status