"Makasih, Olivia."Olivia mendongak, mendapati wajah Kafka yang sedang mengamatinya. Dia tersenyum kecil. "Makasih untuk apa? Perasaan gue nggak lakuin apa-apa."Kafka menghela napas panjang, tatapannya kembali mendongak. Melihat langit malam sudah tidak lagi cerah seperti sebelumnya, air dari langit mulai menetes sedikit demi sedikit membasahi bumi. "Makasih buat nggak membahas apapun yang lo lihat."Olivia mengerutkan keningnya, lalu menggeleng. "Bukan ranah gue buat nanya hal pribadi lo," ujar Olivia tenang. Kedua tangannya memegang tiang besi balkon, ikut menghirup udara dingin karena gerimis. "Lo nggak menceritakan ke gue, ya berarti itu hal pribadi yang nggak boleh gue tanya. Gue masih tahu batasan, Kafka. Gue juga paham, nggak semua hal bisa lo ceritakan ke orang lain.Kafka menoleh, mendapati Olivia yang sedang memejamkan mata. Dia belum benar-benar bisa menamai perasaan nyaman pada gadis di sampingnya, Cinta? Sayang? Atau hanya sekedar peduli."Kenapa lo baik sama gue?" Masih
Read more