“Gue masih nggak paham sama Kafka, cowok itu kadang ngejar lo banget, kadang bodo amat. Iya nggak sih?” tanya Sarah bingung.Pasalnya sejak berpacaran dengan Kafka, Sarah tidak pernah terdengar desas desus Kafka dekat dengan perempuan lain, tapi tiba-tiba cowok dingin itu menyetujui permintaan konyol Olivia saat meminta putus.Olivia yang sedang makan kuaci di samping Sarah pun menoleh, kemudian ia mengendikkan bahu keatas. “Nggak tau deh, dia juga bosen kali dengerin gue yang minta udahan mulu.”“Lo pernah bilang ke dia, kalau lo minta putus?” Sarah membalikan tubuhnya, menghadap Olivia penuh.Olivia mengangguk. “Sering.”Sarah menjentikkan jarinya. “Bener dugaan gue, kayaknya dia yang udah cape sama lo. Lagian ya cowok kayak dia tuh nggak beneran serius, kan? Maksud gue, keliatan banget main-mainnya.”Olivia hanya mengangguk-anggukan kepala seolah mengerti apa yang sahabatnya bicarakan. “Mungkin …, gue juga nggak terlalu serius sih pacaran sama dia,” keluhnya. “Jujur aja, gue stres
閱讀更多