Masuk"Apa yang kamu suka dari Kafka, Liv?”Suara Oliver menggema di kamar Olivia, sejak pulang sekolah tadi Olivia sudah melakukan panggilan video dengan Abangnya, ingin menceritakan sesuatu tentang kemarin. Olivia menggeleng samar, gadis itu masih membuka dasi dan meletakkannya di keranjang pakaian kotor lalu duduk kembali di meja belajar. "Nggak ada, aku ga suka sama Kafka, Bang. Berapa kali aku jelasin ke Abang, Kafka sama aku udah nggak ada hubungan.”Oliver terkekeh di sana, pria itu hanya menampakkan setengah wajahnya. “Masa sih? Kayaknya kamu kecintaan gitu sama Kafka,” ledek Oliver."Mana ada, kebencian juga iya!” Olivia memajukan bibirnya cemberut. "Mana pacar nya Abang, mau liat,”"Lagi di Indo dia, besok baru ke sini lagi.” "Yah, padahal mau ketemu calon kakak ipar,” bibir Olivia sengaja dibuat cemberut. "Kenalin ke rumah dong, Bang, biar Mama sama Papa nggak bahas soal aku mulu. Sekali-kali gitu bahas soal Abang.”Oliver terlihat menggeser laptopnya di atas kasur, di sana sek
Lapangan sekolah yang sebelumnya terlihat sepi, hanya ada beberapa orang bermain basket, kini penuh dengan orang yang berkumpul riuh disana. Menyaksikan dengan seksama hasil petisi yang sudah ditentukan oleh sekolah.Panggung kecil di samping tiang bendera masih belum ada yang mengisi sejak sepuluh menit lalu, hanya ada podium kecil yang ditaruh oleh OB dadakan tadi.Olivia dan beberapa teman sekelasnya sedang berteduh di bawah pohon besar tepat di belakang lapangan, beberapa orang juga terlihat meneduh. Sore ini matahari masih sangat menyengat kulit, maklum saja, sudah mulai memasuki musim kemarau."Tes .. tes. Suara Bapak kedengeran?” Salah satu guru Olahraga mengetes mic yang akan digunakan. Matanya sedikit menyipit menatap bagian tengah lapangan yang kosong. "Kalian nggak mau baris? Udah mau mulai.” Teriaknya, suaranya keras sekali. Bayangkanlah guru itu meneriakkan semua orang dengan mic yang tepat berada di depan bibirnya.Bagian tengah lapangan yang tadinya kosong, langsung dip
Suasana sekolah di pagi hari ini terasa sangat berbeda, ini sudah pukul delapan dan tidak ada guru yang masuk ke dalam kelas Olivia. Murid-murid di kelas Olivia juga terlihat santai, apa Olivia ketinggalan berita saat satu hari dirinya tidak masuk sekolah?"Kok udah masuk, Liv, bukannya masih sakit?” Tanya salah satu teman sekelasnya yang duduk tepat di belakang Olivia, Olivia berusaha menolehkan kepalanya perlahan lalu tersenyum tipis.Gadis itu menyambut senyum Olivia. "Jangan nengok ke belakang, nanti sakit kepalanya. Jawab aja dari depan,”"Gapapa, aman. Udah mendingan, cuma nyeri dikit kadang.” Olivia menjelaskan dengan keadaan kepala yang serong ke kanan, dia tidak mau menoleh ke kiri, sebab tatapannya akan langsung melihat Kafka yang duduk di pojok kiri kelas.Setelahnya tidak ada lagi percakapan, Olivia tahu ini hanya basa-basi, tapi syukurlah ada yang menanyakan keadaannya.Tiba-tiba suara derap langkah kaki terdengar memasuki kelas, seketika kelas hening. Menatap siapa geran
Olivia baru saja selesai mandi saat Mama dan Papa tiba-tiba memanggilnya untuk turun ke meja makan. Gadis itu mengenakan piyama tidur model gaun panjang berwarna lilac, dengan akses renda di bagian pundak yang menjuntai hingga dada. Lalu ada pita kecil berwarna kuning di tengahnya.Papa dan Mama sudah berada di meja makan, wajah keduanya terlihat berbeda. Selain karena kejadian Olivia kemarin, sepertinya ada hal lain yang mereka hendak katakan.“Liv, Mama tadi dapat email dari sekolah, isinya petisi buat pembubaran geng anarkis. Geng apa itu?" Mama mulai membuka percakapan di meja makan saat memastikan semua piring di meja sudah terisi dengan makanan.Papa mulai menyuap nasi goreng seafood kesukaannya, masih mendengarkan obrolan anak dan istrinya.Olivia mendadak diam, tangannya yang tadi sedang menyendok nasi langsung diletakkan kembali di atas piringnya. Tubuhnya tiba-tiba bereaksi tidak biasa, seperti panik. "Pembubaran geng anarkis? Wah, aku nggak tau tuh, Ma. Nggak pernah denger
“Apa yang mau diobrolin?”Dengan berat hati akhirnya Kafka membukakan pintu apartemennya atas perintah Ayahnya, Wanita itu rupanya melaporkan Kafka pada Ayahnya. Dasar licik."Kenapa kamu nggak masuk sekolah hari ini?” tanya Ibu tirinya sambil melangkah masuk dan duduk tanpa disuruh di sofa panjang ruang tamu. “Perlu saya peringatkan kepada kamu Kafka, bahwa sekolah kamu itu milik keluarga besar Kusuma. Jadi, jaga sikap kamu selama bersekolah disana. Jangan membuat keributan apapun termasuk membuat onar.”Kafka mengerutkan keningnya dalam lalu hanya mendongak malas, wajahnya datar dan tatapannya menghunus kedua manusia yang tanpa dosa duduk di sofanya. “Apa? Saya nggak tau apa-apa,” ucap Kafka jujur. Benar, dia seharian ini hanya tidur dan belum mengecek ponselnya lagi sejak kedatangan kedua wanita di hadapannya ini.Dia sebenarnya malas meladeni kedua orang aneh ini, mengganggu waktu bolosnya saja. “Kalau kesini cuma buat nanya hal yang nggak penting, lebih baik nggak usah. Saya juga
Kafka baru saja menyelesaikan administrasi milik Olivia, dibantu oleh Rendi sebagai pemilik rumah sakit. Olivia sudah sadar sejak satu jam yang lalu, tapi Kafka sampai sekarang bahkan belum sempat melihat kondisi kepala gadis itu yang katanya diperban. Kondisi Olivia pasca kejadian begitu buruk, gadis itu enggan melihat orang lain selain keluarganya.Kafka yang tadinya begitu semangat saat tahu Olivia sudah sadar, mendadak kaku saat Olivia menyebut nama Ibunya dan Ayahnya saja. Dokter bilang, Olivia hanya mau bertemu orang tuanya. Lagi-lagi kehadiran Kafka ditolak oleh Olivia.Rio yang menyadari perubahan Kafka langsung merangkul Kafka, membawanya menuju parkiran rumah sakit. "Gue nggak tau kalau ternyata Olivia nggak mau ketemu gue," Kafka menyandarkan dirinya pada tiang pancang di depan motor miliknya. Rio memiliki duduk di atas jok motor Kafka. “Gue pikir dia bakalan nyariin gue, tapi nggak." Wajah Kafka tiba-tiba sendu. Bagaimanapun dia khawatir saat mengetahui kondisi terakhir Ol
Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido
Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak
Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang
“Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan







