“Lo nyembunyiin apa dari gue, Olivia?”“Ngggak ada,”Kafka menggeser tubuhnya, menghalangi gadis yang sudah seharian ini menghindarinya. Kafka mengamati wajah Olivia yang terlihat bingung, seperti menunduk lalu menggaruk kepalanya dan berdeham berkali-kali.Tangan Kafka menyentuh pundak Olivia, mencengkramnya erat. “Jangan jadi cewek nggak nurut, Liv,”Mata gadis itu memicing tajam, setelahnya menghentakkan tangan Kafka dari bahunya. “Nggak usah pengen tau urusan gue, lo bukan siapa-siapa gue lagi.”“Perlu gue perjelas?” tawanya sinis. Olivia tidak suka Kafka yang begini. “Walaupun udah putus, bukan berarti lo bisa jauh-jauh dari gue,” ujarnya rendah. Olivia mundur satu langkah, punggungnya menghantam dinding pembatas antar kolam renang dan dapur. “Lo akan selalu jadi milik gue, Olivia.”Olivia berdecak pelan.Tapi, ternyata suara decakan gadis itu malah membuat emosi Kafka naik. Ia mengambil satu langkah maju hingga kini tubuhnya berdempetan dengan gadis itu.“Olivia,” Jemari Kafka m
閱讀更多