Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah berpakaian rapi. Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore, waktunya pulang, begitu pikiran Miranda. “Sayang, nanti aku bikin kejutan buat kamu. Jangan menghindar lagi, ya,” bisik Rolan lembut.“Kakak ga suka Anda, Tuan,” balas Miranda.“Ck, setelah sekian banyak keringat dan desahan … kamu kok masih panggil aku Tuan,” gerutu Rolan sambil merajuk.“Loh, memangnya mau dipanggil apa? Aneh,” balas Miranda.Rolan terdiam sejenak, memikirkan apa panggilan yang tepat tapi terdengar mesra.Dia menghela napas, tidak kunjung menemukan sebutan yang tepat.“Kalo berdua kan bisa panggil aku Sayang, tadi waktu keenakan panggil Sayang, udah kenyang malah lupa,” keluh Rolan.Miranda tertawa kecil lalu mencium pipi Rolan.“Aku pulang duluan, ya, Sayang,” pamit Miranda dan pergi tergesa.Rolan melongo dan sadar setelah Miranda menghilang di balik pintu.“Eeeh, kenapa satu pipi aja? Harusnya keduanya,” gerundel Rolan.Rolan duduk sambil mengelus kursinya, te
最終更新日 : 2026-07-25 続きを読む