Setelah pergumulan panas penuh gairah, keesokan harinya Rolan membuka mata lebih dulu.Lelaki itu menatap Miranda yang masih terlelap di balik selimut, raut wajahnya tampak lelah, rambut berantakan dan bibir sedikit bengkak. Rolan tersenyum tipis, jari-jarinya mengusap lembut perut istrinya yang masih rata.“Bangun, Sayang. Sudah siang, kakek pasti menunggu kita di bawah,” bisik Rolan lembut.“Lima menit lagi … kaki ku masih lemas,” tolak Miranda.“Maaf, itu salahku, Sayang. Tapi kalau kita tidak turun sekarang, Kakek pasti datang ke kamar ini,” balas Rolan.“Haih, oke … oke, gerutu Miranda dengan mata terpejam.Mereka mandi dan bersiap dengan cepat, Rolan mengenakan kaos hitam longgar, Miranda tampil elegan dalam balutan gaun lembut warna krem yang menutupi lehernya bekas-bekas bercinta tadi malam.Saat turun tangga, tangan Rolan tetap di pinggang istrinya, seolah masih enggan melepaskan.Di ruang tamu, Broto Wijaya sudah duduk di kursi besarnya. Dii sofa seberang, tampak seorang pri
Dernière mise à jour : 2026-08-05 Read More