Share

Bab 58

Penulis: Bilkis29
last update Tanggal publikasi: 2026-07-17 14:24:38

Kabar kehamilan Rina menyebar bagai sinar mentari pagi yang hangat, menyentuh hati setiap orang yang menyayanginya. Tak terkecuali Ibu Widya, ibu kandung Rendra yang selama ini paling menantikan kehadiran cucu di tengah keluarga kecil mereka.

Saat Rendra menelepon dan menyampaikan kabar itu, terdengar suara isak tangis bahagia di seberang telepon—Ibu Widya menangis tak kuasa menahan sukacita yang meluap-luap. Wanita tua itu selalu berdoa agar Rina segera dikaruniai keturunan, karena ia tahu b
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 61

    Belum sempat tangan Rendra meraih pinggangnya sendiri, layar ponsel yang tadi menampilkan wajah Casandra tiba-tiba tertutup sepenuhnya oleh nama besar yang membuat darahnya seketika berdesir hebat: Rina — Istriku. Jantung Rendra seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya melotot, napas yang tadi memburu karena gairah seketika tercekat di kerongkongan. Ia menoleh panik ke arah pintu ruangan—terkunci, syukurlah—lalu kembali menatap layar ponsel yang terus berkedip memanggil. Di ujung sana, Casandra masih tertawa pelan, suara merayunya terdengar samar, "Kenapa diam saja, Rendra? Angkat saja, nanti kita lanjutkan lagi. Aku tunggu kamu..." Tanpa berpikir panjang, Rendra menekan tombol merah untuk memutus panggilan dari Casandra terlebih dahulu. Gerakannya begitu kasar hingga ponsel itu terasa hampir terlepas dari genggamannya. Saat pandangannya kembali jatuh ke tubuhnya sendiri, wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi. Kancing kemeja kerjanya sudah terbuka sampai bagian dada, memper

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 60

    Pagi itu, sinar matahari baru saja menembus celah tirai jendela mobil mewah yang melaju perlahan menuju kawasan pusat kota. Rina duduk di kursi belakang, bersandar lembut pada sandaran kursi dengan wajah yang sedikit pucat. Di sebelahnya, Ibu Widya duduk dengan tatapan penuh perhatian, sesekali menoleh ke arah menantunya itu dengan cemas. "Kamu yakin sanggup menemani saya sampai ke butik, Rina?" tanya Ibu Widya lembut sambil mengusap punggung tangan Rina. "Tadi pagi kamu sudah merasa mual, dan sepanjang jalan ini wajahmu terlihat tidak segar sama sekali. Kalau tidak kuat, lebih baik kamu istirahat saja di rumah atau berhenti sebentar dulu di klinik terdekat." Rina tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan rasa perih yang bergulung di ulu hatinya. Ia mengelus perlahan perutnya yang masih terasa mual, namun tekadnya tetap kuat. "Saya baik-baik saja, Bu. Cuma sedikit rasa tidak nyaman saja, mungkin karena perubahan suasana pagi ini. Rapat dengan klien baru itu penting, Bu. Saya tidak

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 59

    Mobil melaju perlahan membelah jalanan kota yang mulai sepi di malam hari. Lampu-lampu jalan berderet memancarkan cahaya kuning yang samar, namun tak satu pun mampu menembus kegelapan yang kini menyelimuti pikiran Rina. Ia duduk menyandar lembut di kursi belakang, menatap kosong ke arah jendela kaca yang memantulkan bayangannya sendiri. Di luar sana pemandangan bergerak cepat, namun di dalam kepalanya waktu seolah berhenti berputar, terhenti pada satu pemandangan yang tak mau pergi dari ingatannya: tangan pria asing itu yang mengelus perut Sari, bisikan manja wanita itu, serta janji mereka untuk pergi bersama kelak. Rina menghela napas panjang, dadanya terasa sesak bukan karena amarah, melainkan karena rasa iba yang begitu dalam. Perlahan satu persatu potongan teka-teki yang selama ini membingungkannya tersusun rapi menjadi satu kebenaran yang pahit. Selama ini ia menyimpan rasa bersalah yang berat di dadanya, membiarkan tuduhan bahwa dirinya mandul menggerogoti kepercayaan diriny

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 58

    Kabar kehamilan Rina menyebar bagai sinar mentari pagi yang hangat, menyentuh hati setiap orang yang menyayanginya. Tak terkecuali Ibu Widya, ibu kandung Rendra yang selama ini paling menantikan kehadiran cucu di tengah keluarga kecil mereka. Saat Rendra menelepon dan menyampaikan kabar itu, terdengar suara isak tangis bahagia di seberang telepon—Ibu Widya menangis tak kuasa menahan sukacita yang meluap-luap. Wanita tua itu selalu berdoa agar Rina segera dikaruniai keturunan, karena ia tahu betul betapa baik, sabar, dan tulus hati menantunya itu. Ia tak pernah percaya pada tuduhan buruk yang pernah dilontarkan orang-orang tentang Rina. "Alhamdulillah... Terima kasih Tuhan... Akhirnya..." bisik Ibu Widya berulang kali, suaranya penuh haru. "Bawalah Rina ke rumah Ibu besok, ya. Ibu ingin memeluknya, ingin merawatnya. Ibu sudah menyiapkan banyak hal kesukaan Rina." Keesokan harinya, Rendra dan Rina pun berangkat menuju kediaman Ibu Widya. Sesampainya di sana, pintu rumah sudah terbuk

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 57

    Di ruang istirahat yang hening itu, Rina masih berdiri terpaku di depan cermin, jari-jarinya gemetar hebat saat mencoba merapikan kembali riasan yang luntur terkena air mata. Bahunya masih terguncang oleh isak tangis yang berusaha ia tahan sekuat tenaga. Rasanya dadanya begitu sesak, seolah ada beban berat yang menindihnya, membuat napasnya terasa berat dan menyakitkan. Setiap kata hinaan yang baru saja dilontarkan Sari masih terngiang jelas di telinganya, tajam seperti serpihan kaca yang menggores luka lama yang belum benar-benar sembuh. Tiba-tiba pintu terbuka perlahan. Casandra melangkah masuk, namun langkahnya terhenti seketika saat melihat sosok Rina yang berdiri sendirian di sana. Matanya terbelalak kaget. Ia mengenali Rina—istri dari Rendra, pria yang sangat dihormati di kalangan pebisnis kota ini. Namun keterkejutannya berubah menjadi tatapan bingung yang dalam saat melihat kondisi Rina: pipinya basah oleh air mata, kelopak matanya merah dan bengkak, wajahnya pucat pasi seola

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 56

    Suasana di aula acara amal itu begitu megah dan meriah. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang menyelimuti setiap sudut ruangan, sementara suara musik lembut berpadu dengan tawa dan percakapan para tamu undangan yang hadir malam itu. Rina duduk di barisan depan, ditemani Rendra yang sesekali mencium punggung tangannya dengan penuh kasih sayang. Malam itu Rina tampak luar biasa cantik—gaun malam berwarna gading yang menyempurnakan lekuk tubuhnya, perhiasan sederhana namun berkelas, serta senyum yang memancarkan ketenangan dan kebahagiaan yang selama ini hilang dari wajahnya. Tak jauh dari sana, Dimas duduk di sebelah Sari. Sesekali matanya melirik ke arah Rina, dan setiap kali hal itu terjadi, jantungnya berdegup tak menentu. Ia tak pernah membayangkan wanita yang dulu sering ia ejek kucel, bau, dan kampungan itu kini berubah menjadi sosok yang begitu anggun, memikat, dan jauh lebih bersinar dari siapapun di ruangan itu. Sari menyadari perubahan sikap suaminya sejak

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 4

    Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah. Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 2

    Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela. Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis. Ia memegang dadanya yang terasa

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 5

    Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 3

    Tekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil. Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja. Harga diri palsunya yang selama ini ia bangu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status