"Maafkan Ibu ya, Dina..."Suara Raka memecah keheningan kamar tidur bernuansa krem dan abu-abu di lantai dua. Lampu tidur memancarkan pendar kuning hangat, membiaskan bayangan mereka di atas tempat tidur berukuran king size.Dina yang baru selesai membersihkan wajahnya di depan meja rias berbalik pelan. Ia menatap Raka yang duduk di tepi ranjang, masih mengenakan celana kain dan kemeja putih yang lengannya tergulung asal.Dina melangkah mendekat, lalu duduk di samping suaminya. Tangannya yang mungil meraih jemari Raka yang tegang. "Kamu tidak perlu minta maaf, Raka. Ini bukan salah kamu.""Tapi ucapan Ibu tadi malam benar-benar keterlaluan," bisik Raka rendah, mengusap punggung tangan Dina dengan ibu jarinya. "Dia terus menekanmu soal anak, padahal..."Raka menggantung kalimatnya, menatap manik mata Dina dengan raut wajah serba salah.Dina menyunggingkan senyum tipis, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Raka. "Ibu belum bisa menerimaku sebagai menntunya. Tapi tadi aku hampir terprovo
Last Updated : 2026-08-22 Read more