"Jadi, ini pria yang membuat seluruh akademi heboh? Kelihatannya tidak sekuat itu," tantang Maya, kapten tim olahraga akademi, sembari menyilangkan kedua lengan kekarnya di depan dada. Rangga berdiri tegak di tengah ruang ganti klub olahraga yang luas. Udara di dalam ruangan itu terasa lembap dan hangat, sarat akan aroma sisa sabun, minyak gosok, dan uap air. Di hadapannya, tiga atlet wanita terkuat di Sanctuary, Maya, Rina, dan Tina sudah menunggu dengan hanya berbalut kain handuk putih sebatas dada, memamerkan lekuk tubuh atletis mereka yang berkilat oleh sisa keringat latihan. "Aku datang ke sini karena kalian yang menantangku, Maya," sahut Rangga tenang, matanya menatap lurus tanpa ada rasa gentar sedikit pun. "Bukan untuk dinilai seperti barang pajangan." "Wah, bicaranya sombong sekali, Kapten," celetuk Rina yang bertubuh jangkung, melangkah mendekat dengan senyuman meremehkan. "Dia pikir cincin emas di jarinya itu otomatis memberi dia kekuatan otot?" "Cincin itu h
Read more