Keiran membukakan pintu mobil, menanti hingga Shaluna masuk dan duduk di kursi penumpang. Pria itu mengitari kap mobil, lalu mengambil posisi di balik kemudi. Sebelum menyalakan mesin, Keiran menarik beberapa lembar tisu dari konsol tengah, mengusap lelehan darah di sudut bibir dan pelipisnya tanpa sedikit pun merintih.Shaluna memperhatikan pergerakan itu dari samping. Air matanya sudah kering, digantikan oleh tatapan dingin yang tajam menembus netra Keiran."Puas, Mas?" tanya Shaluna, suaranya datar sarat akan kecaman yang menusuk.Gerakan tangan Keiran menyeka darah terhenti sejenak. Ia menoleh, menatap Shaluna yang kini menyilangkan dada dan bersandar tegak di joknya."Puas udah bikin Papa makin hancur malam ini?" lanjut Shaluna. "Kamu datang, bukannya ngeredain situasi atau minta maaf baik-baik, kamu malah makin menyudutkan Papa. Kamu tahu betul titik lemah Papa itu nama baik dan gereja, tapi kamu malah sengaja pakai itu buat skakmat dia!"Keiran menghembuskan napas pelan,
Last Updated : 2026-07-31 Read more