Kabut tipis masih menyelimuti taman belakang, dan aroma kopi hitam pekat tercium samar dari dapur. Di lantai dua, di ujung koridor yang berlapis karpet tebal, pintu ruang kerja Tuan Dion terbuka sedikit. Cukup untuk menunjukkan bahwa ia sudah menunggu.Keiran mengetuk dua kali, lalu masuk tanpa menunggu jawaban. Ia sudah terbiasa dengan aturan tak tertulis di rumah ini. Kalau Tuan Dion memanggil, berarti urusan penting, dan tak ada tempat untuk basa-basi.Ruang kerja itu luas, didominasi kayu mahoni gelap dan rak buku yang menjulang hingga langit-langit. Tuan Dion duduk di kursi besar di belakang meja antik, kemeja putihnya digulung hingga siku, koran pagi terlipat rapi di samping secangkir kopi yang sudah dingin. Matanya yang selalu tajam seperti elang langsung tertuju pada Keiran begitu pintu tertutup.“Duduk,” katanya singkat, tanpa senyum.Keiran menurut. Ia duduk di kursi tamu di depan meja, postur tegap, tapi tangannya yang biasanya tenang kini sedikit mengepal di atas paha.T
Last Updated : 2026-07-29 Read more