Shaluna meremas ujung gaunnya sampai buku-buku jarinya memutih, tapi rasa sakit di jemarinya tidak ada apa-apanya dibandingkan rongga hampa yang mendadak menganga lebar di dadanya. Keheningan kamar masa kecilnya yang dulu hangat kini terasa seperti peti mati yang dingin dan mencekik.Suara hela napas Keiran di belakangnya terasa seperti ancaman. Setiap incinya, setiap detak jantung pria itu, hanya mengingatkan Shaluna pada kebohongan besar yang tersusun rapi selama dua minggu terakhir."Shaluna, tolong." Suara Keiran terdengar serak, mendekat satu langkah. "Jangan siksa diri kamu seperti ini.""Siksa diri?" Shaluna terkejut pelan. Tawa kaku, hampa, tanpa sedikit pun rasa humor, yang mendadak berubah menjadi tangis tajam yang tertahan di tenggorokan. Ia berbalik cepat, menatap Keiran dengan mata yang menyala merah. "Kamu bilang aku menyiksa diri, Keiran? Kamu yang membunuh aku pelan-pelan!"Keiran terpaku, melangkah mundur setengah sentimeter seolah baru saja dihantam pukulan t
Last Updated : 2026-08-06 Read more