Tubuh Shaluna seolah hidup dalam realitas yang berbeda dengan jiwanya. Jiwanya telah membeku dan membisu, memutus seluruh akses komunikasi dengan dunia luar. Namun tubuhnya secara kejam dan alami, masih setia menjalankan perannya sebagai seorang ibu.Produksi ASI-nya tidak kunjung mereda. Malah, seolah merespons stres emosional dan jeritan batin yang terkunci rapat di dalam dadanya, cairan putih itu mengalir kian deras.Setiap beberapa jam, kain gaun yang dikenakan Shaluna akan basah di bagian dada. Rasa hangat yang menjalar diikuti nyeri hebat akibat payudara yang mengeras dan membengkak seperti terbakar kembali menghantamnya. Namun Shaluna hanya diam. Ia tidak meringis, tidak mengeluh, dan tidak meminta bantuan siapa pun.Di dalam kamar yang temaram, suara ritmis mesin pompa ASI kembali berdesung pelan.Ssst... ssst... ssst...Shaluna duduk kaku di tepi ranjang. Tangan kirinya yang tak terbalut perban memegangi corong pompa, sementara mata sembapnya menatap kosong pada cairan
Terakhir Diperbarui : 2026-08-07 Baca selengkapnya