Share

97. Pamit

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-08-04 21:28:07

Keiran merapikan sisa-sisa keintiman mereka dengan telaten. Jemari tangannya yang besar dan hangat mengusap lembut keringat di pelipis Shaluna, lalu menurunkan gaun sutra wanita itu hingga kembali jatuh sempurna membungkus lekuk tubuhnya.

​Suara gemericik air dari bathtub telah ia matikan, menyisakan hening yang di dalam kamar mandi mewah itu. Di luar, langkah kaki pengawal yang berpatroli sesekali terdengar samar, mengingatkan mereka bahwa waktu untuk berpisah telah tiba.

​Shaluna berdiri meny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    162. Lamaran

    Pagi di pesisir selatan berganti menjadi siang yang teduh. Angin laut berembus perlahan, membawa aroma garam yang menenangkan ke dalam teras rumah kayu tempat Shaluna sedang membersihkan sisa-sisa cat minyak di jemarinya.​Keiran melangkah keluar dari dalam rumah dengan langkah tenang. Pria itu sudah berganti pakaian—bukan lagi kaus santai yang ia kenakan tadi pagi, melainkan kemeja linen putih berpotongan rapi yang lengannya digulung hingga ke siku. Ada pendar yang berbeda dari raut wajah Keiran hari ini. Tenang, mantap, dan dipenuhi oleh satu keputusan bulat yang tidak bisa diganggu gugat.​Keiran mendekati Shaluna dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dan menyandarkan dagunya di bahu Shaluna.​"Sudah selesai melukisnya?" bisik Keiran rendah di dekat telinga Shaluna.​Shaluna tersenyum, menyandarkan kepalanya ke samping, menyentuh rahang tegap Keiran. "Sudah. Kenapa? Rapi banget bajunya, mau ke mana?"​Keiran tidak langsung menjawab. Pria itu memutar tubuh S

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    161. Tebing

    Pintu kaca teras tertutup rapat di belakang mereka, meredam deru ombak menjadi desir halus yang samar. Kehangatan interior rumah kayu menyambut saat Keiran melangkah perlahan melintasi lantai papan yang halus, membawa Shaluna dalam bopongannya menuju kamar tidur utama.​Pendar remang dari lampu dinding berdesain kuningan membiaskan nuansa keemasan di sekujur ruangan. Keiran menurunkan tubuh Shaluna di atas tempat tidur berseprai linen putih yang lembut. Tidak ada ketergesaan yang didorong oleh ketegangan atau luapan adrenalin masa lalu. Malam ini, pergerakan mereka murni dipandu oleh keheningan yang intim dan rasa saling memiliki yang telah mengakar kuat.​Keiran berlutut di tepi ranjang, melepas ikatan rambut Shaluna hingga helai-helai hitamnya terurai bebas menutupi bahunya. Jemari Keiran yang lebar dan hangat menyusup ke sela-sela rambut wanita itu, mengusap tengkuknya dengan ritme yang begitu lembut.​"Capek?" tanya Keiran rendah, suaranya serak membisikkan kepedulian yang hangat

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    160. Obrolan Hangat

    Malam di pesisir selatan menyelimuti rumah kayu mereka dengan ketenangan murni. Tidak ada dering ponsel, tidak ada sekat korporasi, dan tidak ada pembicaraan mengenai takhta atau urusan bisnis yang telah menyita separuh usia mereka. Hanya ada keheningan yang ramah, berpadu halus dengan deru angin malam dan ketukan konstan ombak di kejauhan.​Di area dapur berkonsep terbuka yang berdinding kayu hangat, Keiran berdiri di depan kompor stainless steel. Pria yang biasanya mengenakan setelan jas termahal itu kini tampil kasual dengan kaus katun polos dan celana santai. Jemari tangannya yang panjang dan lihai terlihat begitu teliti memotong bahan-bahan makanan segar yang mereka beli sore tadi dari nelayan lokal.​Shaluna menduduki salah satu kursi bar kayu di seberang meja dapur, menopang dagunya dengan kedua tangan sambil mengamati setiap gestur Keiran. Rambutnya diikat asal-asalan, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai lehernya. Senyum tipis mengukir bibirnya sewaktu melihat betapa

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    159. Dunia Baru

    Mereka menghabiskan sepanjang pagi itu tanpa terburu-buru. Keiran membiarkan ponsel utamanya mati di atas meja nakas, sepenuhnya memutus saluran komunikasi dengan Jakarta maupun bursa internasional untuk beberapa hari ke depan.​Di teras kayu yang langsung menghadap ke garis pantai, Keiran duduk bersandar dengan kaus katun santai dan celana kain longgar. Di pangkuannya, sebuah cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis menemani keheningan pagi. Tidak jauh dari sana, Shaluna berdiri di depan kanvas putih melukis pemandangan tebing dan gulungan ombak selatan. Gerakan jemarinya yang memegang kuas terasa begitu lepas, tanpa beban atau tuntutan eksibisi galeri mewah.​Keiran memperhatikan setiap pergerakan Shaluna dengan pendar mata yang hangat. Pria yang dulunya hanya mengenal angka, kalkulasi risiko, dan pengambilalihan saham itu kini menemukan kepuasan murni hanya dengan menyaksikan wanita di hadapannya berkarya dalam kedamaian.​"Kenapa ngelihatinnya begitu?" tanya Shaluna

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    158. Hidup Kita

    Keheningan malam pesisir kembali merayap masuk, menggantikan deru napas berat yang perlahan menenang. Di atas tempat tidur berseprai linen yang agak kusut, Keiran bergeser pelan, merebahkan tubuhnya di samping Shaluna tanpa sedikit pun menarik diri dari pelukan.​Tangan kirinya yang lebar menyusup di bawah kepala Shaluna, menjadikannya bantal hangat, sementara tangan kanannya merangkul pinggang polos wanita itu, menariknya rapat-rapat hingga tidak ada celah tersisa di antara mereka. Keiran mendaratkan ciuman lembut di puncak kepala Shaluna, menghirup dalam-dalam wangi alami rambutnya yang kini berbaur dengan jejak keintiman pekat di antara mereka.​Shaluna melingkarkan satu kakinya di atas paha tegap Keiran, menyandarkan pipinya di dada bidang pria itu yang masih naik-turun teratur. Suara detak jantung Keiran yang kuat dan konstan tepat di bawah telinganya menjadi ritme paling menenangkan setelah badai emosi panjang yang mereka lewati sejak pagi.​"Kamu gak dingin?" bisik Keiran rend

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    157. Lihat Aku

    Laju mobil Rolls-Royce perlahan melambat sebelum akhirnya berhenti total di pekarangan rumah kayu di pesisir selatan. Suara mesin mobil mati, menggantikannya dengan gemuruh ombak laut yang menghantam karang dan deru angin malam yang liar.​Keiran tidak menunggu sopir membukakan pintu. Ia mendorong pintu kabin, lalu keluar sambil membawa Shaluna di dalam bopongannya. Gaun hitam dan mantel yang melilit tubuh Shaluna hanya terpasang seadanya, membiarkan sebagian besar kulit mulusnya yang masih hangat terekspos langsung oleh terpaan angin laut malam yang dingin.​Shaluna melingkarkan kedua tangannya di leher Keiran, menyembunyikan wajahnya yang merona di balik ceruk leher pria itu saat Keiran melangkah cepat menaiki tangga teras kayu. Kunci pintu terdorong, dan pintu tebal itu terbanting menutup di belakang mereka, mengunci rapat keheningan dalam rumah dari dunia luar.​Tanpa menurunkan Shaluna, Keiran mendorong tubuh wanita itu menyandar ke pintu kayu yang tertutup. Di dalam kegelapan ru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status