Keiran kembali mendekat saat menyadari kegelisahan Shaluna. Ia mengira mual perempuan itu kumat lagi karena aroma antiseptik rumah sakit, jadi ia bermaksud memanggil perawat untuk mengganti kain.Namun, sebelum Keiran sempat berbalik, Shaluna mengulurkan tangannya yang masih tertancap selang infus. Jemari perempuan itu meremas ujung kemeja Keiran, menahannya agar tidak melangkah menjauh."Jangan ke mana-mana," bisik Shaluna pelan, suaranya hampir tenggelam di antara dengung pendingin udara kamar rawat.Keiran menunduk, mengurungkan niatnya. Tanpa bersuara, ia merendahkan duduknya di tepi ranjang.Shaluna tak melepaskan genggamannya. Justru, ia makin mencondongkan tubuhnya ke arah Keiran, menyenderkan keningnya tepat di dada pria itu. Ia menghirup napas dalam-dalam, mencari aroma campuran parfum maskulin dan suhu tubuh Keiran yang familier. Rasa mual dan pusing yang sejak tadi berputar di kepalanya perlahan-lahan reda, berganti dengan rasa tenang yang asing.Keiran mematung sejen
Last Updated : 2026-07-27 Read more