Mobil melaju perlahan, hingga Salsabila tiba-tiba menunjuk ke luar jendela, matanya berbinar melihat hamparan rumput hijau dan ayunan di kejauhan. "Papa... nanti kita main ke taman itu ya? Salsa mau lari-larian, mau naik ayunan sama Papa," pintanya dengan suara penuh harap. Rafael melirik sekilas, lalu kembali menatap layar ponsel yang baru saja berdering. Pesan dari pekerjaan masuk bertubi-tubi. Wajahnya seketika berubah tegang, ada perasaan bersalah muncul di jarinya. "Maaf ya Sayang, nggak bisa. Papa ada urusan pekerjaan yang sangat penting, harus diselesaikan sekarang juga." Senyum di wajah Salsabila perlahan luntur. Ia menurunkan tangannya, menundukkan kepala, dan memeluk lututnya sendiri di kursi belakang. Tak ada tangisan, tak ada rengekan—hanya kesunyian yang menyayat hati, seolah ia sudah terbiasa mendengar penolakan seperti itu. Tapi, justru sikap seperti itulah yang sebenarnya membuat Rafael merasa bersalah. Melihat sikap putrinya yang begitu tenang namun menyedihkan
最終更新日 : 2026-07-04 続きを読む