Compartilhar

22. Pak Rafael..

last update Data de publicação: 2026-07-03 21:20:07

Rumah itu kembali tenang. Rafael kembali masuk ke dalam ruang kerjanya.

Namun justru ketenangan itulah yang terasa begitu asing bagi seluruh penghuni rumah.

Beberapa pembantu berdiri saling berpandangan. Tidak ada satu pun yang langsung kembali bekerja. Mereka sesekali melirik ke arah Sarah, lalu buru-buru mengalihkan pandangan ketika Sarah tanpa sengaja melihat ke arah mereka.

Perasaan bersalah terus menghantui mereka.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    151. Pak Adijaya, Tolong jangan disini!

    Tok .. Tok.. Tok.. Pintu kamarnya terketuk dari luar, sontak saja membuat Sarah yang terlelap bangun begitu saja. Ia buru-buru merapikan pakaian dan rambutnya sebelum membukakan pintu untuk seseorang yang menunggu di luar. Saat pintu itu terbuka, Rafael berdiri tepat di depannya. Membuat Sarah terkejut untuk beberapa detik, tetapi berikutnya ia lalu menunduk sopan."Bagaimana kondisimu?" tanya pria tersebut, suaranya tenang dan lembut. "Sudah mendingan Pak.""Kamu yakin? kalau masih tidak enak badan, saya akan memanggilkan dokter keluarga." Kepalanya langsung mendongak menatap Rafael, gelengannya menunjukkan penolakan. Sarah merasa ini sudah berlebihan, ia hanya kelelahan biasa, dan tidak semestinya juga Rafael bersikap peduli seperti saat ini. "Tidak perlu pak, saya sudah enakan. Besok pagi sudah bisa bekerja kembali," jelasnya pelan"Besok pagi, kamu ikut saya." "Ikut bapak kemana?" rasa penasaran mulai merasuki tubuhnya, besok hari libur jadi rasanya tak mungkin jika S

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    150. Adijaya mulai paham

    Malam itu, meja makan keluarga Adijaya tetap dipenuhi berbagai hidangan, tetapi ada satu hal yang terasa berbeda. Tidak ada masakan buatan Sarah yang biasanya membuat suasana makan menjadi lebih hangat. Sarah sendiri memang sengaja tidak ikut menyiapkan makan malam karena permintaan Rafael, sehingga Mbak Yati mengambil alih sebagian pekerjaan dapur. Hidangan yang tersaji sebenarnya cukup lengkap, bahkan tampak jauh lebih mewah daripada makanan sederhana yang biasa Sarah buat. Namun entah mengapa, Rafael beberapa kali hanya menyuap tanpa banyak bicara, sementara kedua orang tuanya juga menikmati makanan itu dengan sopan meski sesekali saling berpandangan.Bukan berarti makanan tersebut tidak enak. Hanya saja, ada sesuatu yang berbeda. Masakan Sarah punya rasa rumahan yang sederhana, tetapi justru itulah yang membuat mereka terbiasa. Setelah beberapa kali menyantap makanan buatannya, lidah mereka seperti mengenali cita rasa yang tidak bisa begitu saja digantikan oleh hidangan lain. Bahk

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    148. Pak tolong jangan!

    Mata mereka saling terkunci. Keheningan menyelimuti ruangan kecil itu sejenak, seolah waktu ikut berhenti berputar. Hingga akhirnya suara Sarah terdengar pelan, masih berusaha memegang teguh kata-katanya. "Tapi Pak, pekerjaan saya belum selesai."Kalimatnya terhenti. Rafael justru membungkuk perlahan, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka nyaris tak ada. Jantung Sarah berpacu liar, nyaris melompat keluar dari rongga dadanya. Ia bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu yang menyapu lembut kulit wajah, mencium aroma wangi maskulin yang menenangkan namun sekaligus membuatnya gugup luar biasa."Wajahmu pucat sekali. Kamu itu kelelahan," ucap Rafael pelan, suaranya lembut namun tegas. "Tenang saja, Sarah. Saya tidak akan memotong gajimu."Sarah menelan ludah susah payah. Baginya, ini terasa tidak wajar. Seorang majikan dekat dengannya, memperhatikannya sedalam ini—baginya, batas yang selama ini dijaga perlahan mulai kabur, dan itu membuatnya gelisah. Perhatian yang tulu

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    147. Pak? jangan gendong saya!!

    Sarah bahkan belum benar-benar sempat untuk makan siang. Setelah pulang sekolah, wanita tersebut langsung kembali melanjutkan pekerjaannya, menidurkan Salsabila dan setelah itu lanjut masak untuk makan siang. Harusnya memang pekerjaan makan siang di kerjakan oleh Mbak Yati, namun karena Pak Adijaya dan Bu Anisa menyukai masakan Sarah, berakhirlah dirinya berkutat di dapur siang-siang seperti ini. "Mudah-mudahan mereka suka!" seru Sarah, setelah mencicipi masakan yang siap di hidangkan di meja makan. "Loh, kok kamu yang masak?" Hampir saja, mangkok yang berisi makanan tumpah ke lantai jika saja Sarah tak memegangnya dengan kuat. Bagaimana tidak, suara Rafael benar-benar membuat jantungnya hampir copot. "Pak.." cicit Sarah, ia benar-benar terkejut kali ini. "Maaf." Rafael melihat Sarah kaget dan sebisa mungkin menahan rasa amarah, membuatnya merasa bersalah. "Saya kaget aja, kenapa kamu masak siang-siang begini? kenapa gak istirahat aja?" Kepalanya menggeleng dengan c

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    146. Aku takut pak Rafael salah mengartikan semuanya.

    Dalam benaknya, kalimat Salsabila terus membuatnya terngiang-ngiang. Apa mungkin perlakuannya selama ini berlebihan? atau tak sewajarnya seorang pembantu dengan majikan? Dan apakah karena perlakuannya itu, sehingga membuat Rafael pagi ini mengajaknya makan malam? menjadikan pria tersebut berharap lebih padanya? Kepalanya menggeleng pelan, mencoba membuang pikiran-pikiran buruk tersebut, meski menepisnya adalah hal yang sulit. "Pak.." Sarah kemudian mencoba membuka obrolan, pak Darto nampak fokus pada jalanan. "Ya Mbak Sarah, ada apa?" "Menurut bapak, apa saya berlebihan dalam memperlakukan Salsabila dan Pak Rafael?" tanyanya pelan, sebisa mungkin Sarah tak ingin pak Darto tahu maksud dari pertanyaannya. Beliau tak langsung menjawab, tapi pria paruh baya itu tersenyum penuh arti. "Semenjak Mbak Sarah bekerja di rumah Pak Rafael semua terasa beda Mbak." "Beda gimana pak?" dahinya mengerut dalam."Ya lebih hidup, dan gak sepi. Non Salsabila juga jadi lebih ceria. Pokoknya

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    145. Tante Sarah kan, sayang sama aku dan Papa!

    Tok.. Tok..Tok..Suara pintu terketuk menggema di ruangan besar yang kini sunyi, hanya deru pendingin ruangan yang terdengar dan degub jantung Sarah yang tak karuan. Saat ini, ia dan Salsabila berdiri di depan pintu kamar Widya, menunggu wanita tersebut keluar. Beberapa saat kemudian, perempuan itu keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang rapi. "Mau kemana kamu nak?" tanya Anisa, nada bicaranya tenang tapi ada ketegasan didalamnya. "Ma, aku ada urusan penting.""Apa lebih penting dari mengantar putrimu sekolah?" Perempuan itu tak langsung menjawab, matanya sempat menatap ke arah putrinya lalu kembali menatap ibu mertuanya. "Iya Ma, ada urusan bisnis dan harus aku yang menanganinya," jawaban itu sontak membuat Anisa terkejut, bahkan kini kepalanya menggeleng pelan. "Ada Sarah Ma, biasanya Salsabila di temani Sarah kok." Anisa nampak menghela napas. "Sarah itu hanya pembantu, dan kamu ibunya."Sarah terdiam, entah mengapa kata-kata yang keluar dari bibir Bu Anisa membuat hat

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status