MasukRumah itu kembali tenang. Rafael kembali masuk ke dalam ruang kerjanya.
Namun justru ketenangan itulah yang terasa begitu asing bagi seluruh penghuni rumah. Beberapa pembantu berdiri saling berpandangan. Tidak ada satu pun yang langsung kembali bekerja. Mereka sesekali melirik ke arah Sarah, lalu buru-buru mengalihkan pandangan ketika Sarah tanpa sengaja melihat ke arah mereka. Perasaan bersalah terus menghantui mereka."Kamu istirahat saja dulu." Adijaya membuka suara setelah melihat Sarah yang masih tampak gelisah. Namun, perempuan itu justru menggeleng cepat. "Maaf, Pak. Pekerjaan saya masih banyak. Saya gak enak dengan yang lain." Sarah langsung teringat pada Mbak Yati dan para pekerja lain. Bagaimana kalau mereka melihat dirinya justru beristirahat ketika pekerjaan masih menumpuk? Pasti akan muncul pertanyaan. Terlebih setelah kejadian hari ini, Sarah sendiri sudah merasa tidak nyaman menerima perlakuan khusus dari keluarga Adijaya. "Tidak apa-apa, Sarah. Ini kami yang perintah." Nada Anisa terdengar lembut, tetapi bagi Sarah kalimat itu justru membuatnya tidak punya alasan lagi untuk menolak. Ia kembali bungkam. Bagaimanapun, dirinya hanyalah seorang pembantu di rumah ini. Ia tidak memiliki banyak suara untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan. Ketika orang-orang yang menjadi atasannya sudah memberikan perintah, Sarah hanya bisa mengangguk dan menurut. "Baik, Bu." Pada
"Sayang, Tante pergi ke kamar dulu ya, ganti baju?" Sarah menunduk menatap Salsabila yang masih berdiri di hadapannya. Gadis kecil itu memang tidak banyak bertanya, tetapi dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa Salsabila tahu orang tuanya bertengkar lagi seperti biasanya. Beberapa detik kemudian, Salsabila mengangguk pelan. Senyum tipis muncul di wajahnya. "Nanti, temani aku ya, Tante," pintanya. Sarah segera mengangguk. "Iya, Tante temani." Setidaknya, permintaan sederhana dari Salsabila sedikit membuat pikirannya teralihkan. Sarah kemudian berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya. Namun, semakin jauh dari ruang tengah, langkahnya justru terasa semakin berat. Pikirannya kembali kepada kejadian tadi. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah ini. Bahkan juga tidak tahu bagaimana sikap Widya kepadanya nanti. Yang paling membuat Sarah takut adalah kemungkinan perempuan itu benar-benar murka dan menganggap dirinya sebagai akan menambah sebab permasalahan rumah tangga me
"Kalian pergi berdua di hotel." Keringat dingin mulai terasa di pelipis Sarah. Ia membuka mulut, hendak menjelaskan bahwa semua tidak seperti yang dipikirkan Widya. Namun, Rafael lebih dulu menjawab dengan nada tenang. "Menuduh tanpa bukti, itu sama saja fitnah." Namun, jawaban Rafael justru membuatnya terkenal. Ia tidak menyangka Rafael akan menjawab seperti itu, seolah sedang menutupi apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, meski memang bukan sesuatu yang lebih, tapi dugaan Widya itu memang benar adanya, mereka benar hanya berdua pergi ke hotel. Widya justru tersenyum miring, senyum yang mampu membuat dada Sarah seperti di remas oleh banyak tangan. "Bela saja, tutupi saja semuanya!" Meski nadanya tidak begitu kerasa, kalimat itu penuh penekanan. Tatapannya kemudian beralih tajam kepada Sarah. Perempuan itu langsung menggeleng cepat, merasa harus segera meluruskan kesalahpahaman tersebut, bahwa dugaan itu tidak semuanya benar. Namun sebelum Sarah sempat berkata apa-
"Maaf, Pak. Saya benar-benar gak bisa bahas itu lagi," ucap Sarah sedikit pelan. Ia sengaja menjaga suaranya agar tetap terdengar sopan, meskipun sebenarnya ada rasa gugup yang masih mengganjal di dalam dadanya. Sarah tidak ingin percakapan itu berlanjut dan membuat keadaan di antara mereka semakin canggung. Ia hanya berharap Rafael bisa memahami batas yang sedang ia coba pertahankan. Rafael tidak langsung menjawab. Pria itu hanya berdehem pelan, lalu mengalihkan pandangan ke depan. Setelah beberapa detik, tangannya meraih kunci mobil dan menyalakan mesin. Suara mesin yang mulai menyala seolah menjadi penanda bahwa percakapan mereka benar-benar telah berakhir. Mobil tersebut kemudian perlahan meninggalkan halaman hotel milik Rafael. Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang menemani keduanya. Tidak ada lagi pembicaraan seperti sebelumnya. Sarah lebih banyak menunduk, sesekali matanya mengarah ke luar jendela untuk melihat jalan yang mereka lewati dengan pikiran yang masih terngian
"Sarah, harus berapa kali saya mengatakan kepada kamu. Semenjak ada kamu semuanya berubah."Kali ini, Rafael benar-benar nampak serius. Nada suaranya tidak lagi seperti sebelumnya. Ada ketegasan yang membuat Sarah tahu bahwa pria itu benar-benar menunggu jawaban darinya.Bahkan pria itu seakan tak sabar menunggu jawaban Sarah, padahal sebelumnya perempuan itu masih ingat betul bahwa Rafael akan siap menunggu jawaban Sarah kapanpun. Bukankah pria itu sendiri yang mengatakan bahwa Sarah tidak perlu terburu-buru?Tapi, mengapa kini majikannya mengungkapkan lagi perasaannya?Sarah bingung, benar-benar tak tahu harus bagaimana. Ia menundukkan wajah sejenak, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tidak semuanya bisa keluar begitu saja.Namun, diam saja itu berarti ia sedang membiarkan sesuatu buruk terjadi.Sarah menghembuskan napas pelan, lalu memberanikan diri menatap majikannya. Kali ini ia berusaha tidak menghindari tatapan Rafael. Bagaim
"Sarah.""Sarah.."Suara itu menyadarkan Sarah pada lamunannya. Ia terkesiap dan menatap pria yang ia kenali berdiri tepat di hadapannya. Matanya melirik ke kanan dan kiri, kepalanya menoleh ke sana kemari mencari keberadaan seseorang yang sejak tadi memenuhi pikirannya dan memacu degup jantungnya.Namun, tidak ada siapa-siapa. Hanya Rafael yang berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh tanda tanya."Pak Rafael, Bu Widya mana?""Widya?" ulang pria itu.Sarah mengangguk. Matanya masih sibuk memperhatikan sekitar, seolah berharap menemukan sosok Widya di suatu sudut ruangan."Gak ada Widya, sejak tadi saya di sini sendiri. Kamu yang kenapa melamun?"Sarah terdiam. Ah...Sekarang ia sadar. Jadi sejak tadi, semua itu hanya halusinasinya saja? Karena sebuah rasa takut yang begitu besar, membuatnya berpikir yang macam-macam dan kenyataanya Widya bahkan tak menghampirinya. Bahu yang sebelumnya menegang, luruh begitu saja. Degup jantungnya terasa stabil, napasnya tak sesesak sebelumnya. Sara







